Awan Hujan Belum Terbentuk, Kemarau Panjang hingga November  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyatakan menjelang penghujung September ini belum ada tanda-tanda kemarau akan berakhir. Prediksi kemarau tetap akan berlangsung hingga pekan ketiga November.

    “Belum ada perubahan,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Yogyakarta Teguh Prasetyo kepada Tempo, Kamis, 24 September 2015.

    Teguh mengatakan beberapa indikator yang digunakan BMKG untuk melihat ramalan penghujan adalah terbentuknya awan hujan. Selain itu juga pergerakan suhu udara. Saat ini, menurut Teguh, belum memasuki puncak panas. Dia mengatakan udara panas di Yogyakarta juga baru terjadi sekitar 20 Oktober nanti, ketika matahari berada di garis lintang 7. “Baru setelah itu memasuki fase menurun untuk penghujan," ujar Teguh.

    Saat ini pada siang hari suhu udara di Yogyakarta terpantau tertinggi sekitar 33-34 derajat Celsius. Sedangkan pada malam hari suhu terendah sekitar 20 derajat Celsius. Pada puncak udara panas tengah Oktober nanti, suhu tertinggi akan bergerak naik lagi hingga kisaran 35-36 derajat Celsius. "Suhu ini kategori normal, hanya terasa lebih kering karena masa tanpa hujan lebih lama," ujarnya.

    Warga Yogyakarta, terutama di kawasan Alun-alun Utara, sempat dikagetkan dengan munculnya angin puting beliung kecil atau lesus dengan ketinggian hampir sepuluh meter pada Rabu siang, 23 September 2015. Angin itu tiba-tiba terbentuk dan menerjang kawasan Alun-alun Utara Yogyakarta dengan kecepatan sedang.

    "Lesus kecil itu saat kemarau bisa terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara rendah di alun-alun dan tekanan udara sekitarnya yang lebih tinggi, ini biasa terjadi di daerah lapang tapi tak begitu berbahaya," ujar Teguh. Lesus itu hanya sempat menerbangkan sampah-sampah plastik, kertas, juga tanah di Alun-alun Utara hingga putaran besarnya buyar sendiri sebelum masuk ke jalan.

    Ihwal prediksi kemarau yang masih panjang, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Nugroho Wahyu Winarno meminta warga untuk menghemat air. "Kami minta pengurus daerah selalu mengawasi dan mengingatkan warga agar bantuan air hanya untuk rumah tangga, bukan keperluan lain," ujar Wahyu.

    Sampai September ini, desa-desa yang mengalami kekeringan di Gunungkidul sudah mencapai 115 desa dari total 144 desa.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.