Bambang Widjajanto Cerita Pengalamannya Bersama Adnan Buyung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bambang Widjojanto, saat mengikuti diskusi gelar perkara pemidanaan yang dipaksakan dalam kasus kriminalisasi, di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, 15 Mei 2015. Kriminalisasi yang dilakukan aparat dengan cara paksa tersebut dinilai sangat membahayakan dan mengancam hak-hak warga sipil.TEMPO/Imam Sukamto

    Bambang Widjojanto, saat mengikuti diskusi gelar perkara pemidanaan yang dipaksakan dalam kasus kriminalisasi, di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, 15 Mei 2015. Kriminalisasi yang dilakukan aparat dengan cara paksa tersebut dinilai sangat membahayakan dan mengancam hak-hak warga sipil.TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Non Aktif, Bambang Widjojanto, bercerita mengenai pengalaman paling berkesan bersama pengacara Senior, Adnan Buyung Nasution, saat melayat di kediaman Almarhum Adnan, di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Rabu, 23 September 2015.

    “Dulu pertama kali tes di LBH (Lembaga Bantuan Hukum), yang menguji saya adalah orang-orang top. Bang Buyung, Yap Thiam Hien, Pak Hugeng, dan Mulya Lubis salah satunya,” kata Bambang. Ketika itu, ia ditanya oleh Adnan Buyung mengenai buku yang terakhir kali dibaca oleh Bambang.

    “Bantuan Hukum Struktural,” kata Bambang menyebutkan nama buku tersebut. “Beliau nanya siapa penulisnya, saya jawab Mulya Lubis,” katanya.

    Sambil tertawa, Bambang mengungkapkan dirinya tidak mengenal sosok Mulya Lubis, padahal penulis buku tersebut ada di hadapannya. “Aku gak kenal siapa Mulya Lubis, terus dikasih tau sama dia,” kenangnya.

    Sosok Adnan Buyung diakui Bambang, tidak mungkin tergantikan. Pada kenyataannya, keduanya kerap bertarung gagasan. “Saya sama Abang tidak selalu seiring sejalan. Kita bertarung secara keras, tapi menghormati posisi masing-masing,” kata dia.

    Pengacara senior Adnan Buyung Nasution meninggal dunia pagi tadi pukul 10.17 di Rumah Sakit Pondok Indah. Adnan meninggal setelah dirawat beberapa hari disana.

    Kondisi kesehatan Adnan mulai menurun sejak Desember tahun lalu. Dia menderita gagal ginjal lantaran sering mengkonsumsi obat darah tinggi dan hemodialisis. Sejak itu pun Adnan harus melakukan cuci darah tiga kali dalam sepekan.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.