Johan Budi: Adnan Buyung Selalu Terusik oleh Ketidakadilan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengacara, Adnan Buyung Nasution, di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, 25 November 2011. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Pengacara, Adnan Buyung Nasution, di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, 25 November 2011. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana tugas Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Johan Budi Sapto Pribowo, turut berduka atas meninggalnya pengacara senior Adnan Buyung Nasution. "Innalillahi wa innailaihi rojiun. Atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan ikut bela sungkawa yang mendalam atas wafatnya senior kita Bang Buyung Nasution. Semoga beliau diterima di sisi-NYA," kata Johan melalui pesan singkat, Rabu, 23 September 2015.

    Menurut Johan, Buyung merupakan figur yang jiwanya selalu terusik jika melihat adanya ketidakadilan dalam penegakan hukum dan prinsip-prinsip hak asasi manusia. "Dan selalu mengambil peran untuk ikut meluruskannya. Itu pandangan pribadi saya," ujarnya.

    Buyung mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah, pukul 10.15 WIB, Rabu, 23 September 2015. Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu dirawat sejak Ahad, 20 September, karena komplikasi penyakit yang dideritanya.

    "Mohon dimaafkan segala kesalahan Bapak, semoga mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya," kata putri Adnan, Pia Akbar Nasution, saat dihubungi, Rabu, 23 September 2015.

    Kemarin, Pia menuturkan kondisi ayahnya itu kian membaik. Sejak Senin sore, Adnan dapat bernapas secara normal tanpa bantuan ventilator. Pia menerangkan ventilator tersebut hanya dihentikan sementara, sedangkan selang ventilatornya masih terpasang dalam mulut. Secara keseluruhan, kata Pia, kondisi Adnan berangsur membaik. Detak jantung dan organ tubuh lainnya berfungsi secara normal. Namun, Adnan belum dapat berbicara.

    Sejak dirawat di RSPI, tubuh Adnan juga dipasang alat pencuci darah secara otomatis nonstop. Alat ini berfungsi untuk mengontrol cairan yang masuk ke dalam tubuhnya dan sebagai pencuci darah secara otomatis dalam tubuh Adnan.

    Kondisi kesehatan Adnan mulai menurun sejak Desember tahun lalu. Dia menderita gagal ginjal lantaran sering mengkonsumsi obat darah tinggi dan hemodialisis. Sejak itu pun Adnan harus melakukan cuci darah tiga kali dalam sepekan.

    Pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH) ini meninggal dunia di usia 81 tahun. Keluarga segera membawa jenazah Buyung ke rumah duka.

    LINDA TRIANITA | MUHAMAD RIZKI | DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.