Harga Rendah, Mayoritas Petani Jatim Tinggalkan Kedelai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani memanen kedelai yang ditanam setahun sekali di ladangnya di Kecamatan Nglendah, Kulonprogo, Yogyakarta, Selasa (25/7). ANTARA/Regina Safri

    Seorang petani memanen kedelai yang ditanam setahun sekali di ladangnya di Kecamatan Nglendah, Kulonprogo, Yogyakarta, Selasa (25/7). ANTARA/Regina Safri

    TEMPO.CO, Ponorogo - Petani di delapan kabupaten yang menjadi sentra kedelai di Jawa Timur mengeluhkan masih rendahnya harga pembelian komoditas pangan tersebut di pasaran. Sesuai Permendag Nomor 49/M DAG/PER/7/2015 harga pembelian kedelai petani ditetapkan Rp 7.700 per kilogram, namun kondisi di lapangan hanya berkisar Rp 5.000 - Rp 6.000 per kilogram.

    "HBP (Harga Pembelian Petani) tetap dipermainkan tengkulak. Kami menginginkan harga dasar bukan HBP," kata Sanyoto, petani kedelai dari Trenggalek saat temu wicara kelompok tani kedelai di Desa Karanglo Lor, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Selasa 22 September 2015.

    Akibatnya, Sanyoto melanjutkan, mayoritas petani enggan membudidayakan kedelai. Mereka memilih menanam jagung saat musim kemarau lantaran harga jual pasca panen dinilai lebih tinggi. Adapun hasil penjualan per hektare jagung bisa mencapai Rp 21 juta sedangkan komoditas kedelai di luas lahan yang sama hanya menghasilkan Rp 16 juta.

    Mujiantono, petani asal Nganjuk, berharap pemerintah memberikan jaminan terhadap harga kedelai saat musim panen. Tanpa kebijakan tersebut, ia mengungkapkan peningkatan produksi kedelai sulit tercapai. "Kalau hasilnya sedikit petani tentu tidak mau (menanam kedelai)," ucap dia di acara yang sama.

    Maman Suherman, Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, membenarkan belum maksimalnya peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Dari total kebutuhan 3 - 3,5 juta ton per tahun sebanyak 70 persennya dipenuhi dari luar negeri. "Salah satu kendalanya karena tata niaga yang kurang baik," ujar dia.

    Karena itu, pihaknya berencana mengusulkan perbaikan peraturan tentang harga beli kedelai petani sehingga Perum Bulog yang menyerap komoditas itu mampu menjual ke importir maupun produsen tahu - tempe. "Perkembangan sekarang Bulog susah menjual kedelai yang dibeli dari petani," ucap Maman.

    Acara temu wicara itu dihadiri sejumlah pejabat nasional. Selain itu, Kepala Dinas Pertanian di kabupaten yang menjadi sentra kedelai di Jawa Timur, yaitu Ponorogo, Tulungagung, Trenggalek, Mojokerto, Banyuwangi, Nganjuk, Blitar, dan Kediri. Ratusan petani juga hadir dalam kegiatan yang digelar di areal persawahan tersebut.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.