Kemenkes Tolak Pasal Kretek dalam RUU Kebudayaan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lembaga peduli anak Gagas Foundation, di Mataram melakukan aksi Hari Anti Tembakau. Dimulai dari depan SMAN 5 Mataram, mereka membersihkan puntung rokok yang berserakan di jalanan hingga ke lokasi kegiatan kampanye sejauh satu kilometer, 31 Mei 2015. TEMPO/SUPRIYANTHO KHAFID

    Lembaga peduli anak Gagas Foundation, di Mataram melakukan aksi Hari Anti Tembakau. Dimulai dari depan SMAN 5 Mataram, mereka membersihkan puntung rokok yang berserakan di jalanan hingga ke lokasi kegiatan kampanye sejauh satu kilometer, 31 Mei 2015. TEMPO/SUPRIYANTHO KHAFID

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily Sulistyowati mengatakan tidak sepakat jika kretek dijadikan warisan budaya. Ketentuan mengenai kretek jadi warisan budaya tersebut tercantum dalam Rancangan Undang-Undang Kebudayaan yang akan dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat.

    "Saya tak sepakat apabila masuk RUU Kebudayaan, maka kretek tak akan dilihat sebagai hal yang berbahaya," kata Lily ketika dihubungi, Selasa, 22 September 2015. Menurut Lily, apabila ketentuan mengenai kretek sebagai warisan budaya dimasukkan RUU Kebudayaan, beleid tersebut akan bertentangan dengan Pasal 28 huruf H Undang-Undang Dasar. Beleid ini berbunyi: setiap warga negara berhak mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta negara harus melindungi kesehatan warganya.

    "Kami prinsipnya bukan melarang, tapi kami harus melindungi masyarakat, terutama anak-anak yang terkena dampak asap kretek," ujarnya.

    Sebelumnya, Badan Legislasi DPR dituding menyelundupkan pasal ihwal kretek dalam draf RUU Kebudayaan. Dalam draf RUU Kebudayaan, kretek tradisional masuk Pasal 37 ayat 1 tentang penghargaan, pengakuan, dan perlindungan sejarah serta warisan budaya. Penjelasan pasal kretek ini ada dalam pasal 49.

    Dengan masuknya beleid tersebut, rokok kretek akan dilindungi sebagai warisan kebudayaan. Anggota Badan Legislasi dari Fraksi Partai NasDem, Taufiqul Hadi, mengatakan kretek dimasukkan ke RUU Kebudayaan sebagai warisan budaya karena memiliki sifat yang unik.

    Menyoal keunikan tersebut, Lily berpendapat bahwa ada kekeliruan dasar sejarah dengan pandangan tersebut. Sebab, menurut dia, kretek bukan budaya asli Indonesia, melainkan warisan dari bangsa kolonial ketika menjajah Indonesia berabad-abad silam. "Karena ada sifat adiktif, maka dicari terus oleh masyarakat kita," tutur Lily.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.