Pengacara Senior Adnan Buyung Masuk Rumah Sakit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengacara, Adnan Buyung Nasution di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, 25 November 2011. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Pengacara, Adnan Buyung Nasution di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, 25 November 2011. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengacara senior Adnan Buyung Nasution, 81 tahun, masuk ruang gawat darurat sejak Sabtu, 19 September 2015, di Rumah Sakit Pondok Indah. Adnan Buyung masuk rumah sakit sejak Senin, 15 September lalu. "Keadaannya saat ini sudah sadar kok," kata anak bungsu Adnan, Pia Akbar Nasution, Minggu, 20 September 2015.

    Pia mengatakan, walau sudah sadar, ayahnya masih menggunakan ventilator untuk membantunya bernapas, sehingga harus berkomunikasi dengan keluarga dan kerabatnya melalui tulisan. Walau begitu, keadaan Adnan sudah semakin membaik dibanding sehari sebelumnya.

    Pia menceritakan kondisi kesehatan ayahnya sudah mulai menurun sejak Desember tahun lalu. Adnan menderita gagal ginjal lantaran sering mengkonsumsi obat darah tinggi dan hemodialisis. Sejak itu pun Adnan harus melakukan cuci darah tiga kali dalam sepekan.

    Pada Jumat, 11 September 2015, Adnan menderita sakit gigi di salah satu giginya di bagian kanan bawah. Penyakit gagal ginjal yang dideritanya membuat Adnan harus menjalani operasi yang tidak mudah untuk mencabut giginya itu pada Senin, 15 September 2015, di rumah sakit yang sama. "Sejak giginya dicabut, bapak tidak mau makan karena tidak nyaman," katanya. Adnan hanya mau mengkonsumsi sup krim saja.

    Alhasil asam lambung Adnan naik dan akhirnya muntah-muntah dan lemah pada Jumat, 18 September. "Saat itu, jantungnya berdebar cepat sekali," kata Pia. Sekarang, kondisi Adnan terus membaik. Bungsu dari empat bersaudara ini mengatakan jantung, paru-paru, dan organ dalam ayahnya pun semakin baik. Dokter meminta keluarga untuk memberikan Adnan waktu beristirahat lebih banyak.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.