Ribuan Warga Tumpah Ruah di Festival Bengawan Solo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta Gethek Hias menyusuri Sungai Bengawan Solo saat acara Festival Bengawan Solo di Kampung Sewu, Jawa Tengah, 12 April 2015. ANTARA/Maulana Surya

    Peserta Gethek Hias menyusuri Sungai Bengawan Solo saat acara Festival Bengawan Solo di Kampung Sewu, Jawa Tengah, 12 April 2015. ANTARA/Maulana Surya

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Diperkirakan sebanyak lebih dari 10 ribu warga Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tumpah ruah di bantaran Sungai Bengawan Solo, Minggu, 20 September 2015. Warga menikmati lomba perahu hias dalam Festival Bengawan Solo ke-II yang digelar dalam rangka hari jadi Bojonegoro.

    Warga dari berbagai desa dan kecamatan menyerbu areal Bendung Gerak di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Meski cuaca panas, warga tetap antusias berkerumun di sekitar panggung kesenian tempat Bupati Bojonegoro Suyoto meresmikan pemberangkatan perahu hias yang mengikuti lomba.

    Selain itu, warga juga tersebar di bantaran sungai sepanjang delapan kilometer dari Bendung Gerak menuju finis di jembatan Kaliketek, Banjarsari, Trucuk, Bojonegoro. "Event tahunan ini memang sudah ditunggu-tunggu warga," kata Bupati Bojonegoro, dalam sambutannya, Minggu, 20 September 2015.

    Sebelum lomba dimulai, warga juga disuguhkan Festival Belimbing di Desa Ngringinrejo. Di acara itu, warga berebut buah belimbing yang dibentuk kerucut. Ratusan belimbing dengan nilai total Rp 10 juta itu ludes setelah diserbu ratusan warga. Selanjutnya, warga mengikuti penilaian buah belimbing, dan yang meraih juara satu, belimbing seberat 0,8 ons milik petani asal Desa Ngringinrejo.

    Lomba perahu hias lalu digelar dengan peserta sebanyak 37 perahu. Mereka menghias perahu dengan bentuk aneka macam, seperti menyerupai belibis putih dan rumah joglo. Warga menyambut dengan tepuk tangan meriah.

    Festival Bengawan Solo juga diisi berbagai lomba lainnya, di antaranya menangkap bebek. Ada pula festival layang-layang dan pesta lampion apung alias damar kurung. Pada malam harinya, digelar pentas Sastra Bengawan di pinggir sungai.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro Said Amir menjelaskan seluruh rangkaian acara Festival Bengawan Solo digelar dalam satu hari dan satu malam. Dia menambahkan, festival mengirim pesan pentingnya menjaga kelestarian alam dan air.

    Bengawan Solo dipilih karena banyak memberikan manfaat masyarakat—terutama saat musim kemarau. ”Dan, nyatanya meriah,” katanya.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga