Kementerian Agama Diminta Pantau Layanan Haji Khusus  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jemaah calon haji melakukan tawaf mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, 12 September 2015. Masjidil Haram kembali dipadati para jemaah yang menunaikan ibadah haji. AP

    Jemaah calon haji melakukan tawaf mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, 12 September 2015. Masjidil Haram kembali dipadati para jemaah yang menunaikan ibadah haji. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Agama DPR Saleh Partaonan Daulay meminta agar Kementerian Agama memantau pelayanan jemaah haji khusus di Tanah Suci. "Jemaah haji khusus lebih rawan untuk mengalami penipuan," katanya dalam keterangan pers, Ahad, 20 September 2015.

    Rawannya unsur penipuan oleh travel jemaah haji khusus, kata Saleh, karena pola pelayanan bagi haji khusus lebih berorientasi pada bisnis. Tak heran biaya yang harus dikeluarkan oleh jemaah haji khusus jauh lebih mahal dibanding dengan biaya jemaah haji reguler.

    Saleh, yang juga Ketua Tim Pengawas Haji DPR, menerima keluhan dan melihat keganjilan pelayanan yang diterima jemaah haji khusus. Ketika mengadakan pengawasan ke daerah Umm Al-Jud, tim pengawas melihat jemaah haji khusus ditempatkan di rumah sewa yang tidak layak. "Fasilitas yang mereka terima tidak sesuai dengan pembayaran yang mereka keluarkan."

    Umm Al-Jud terletak 15 kilometer dari Masjidil Haram. Padahal, pelayanan yang dijanjikan bagi jemaah haji khusus seharusnya pemondokan mereka sangat dekat dengan Masjidil Haram. Jauh lebih dekat pemondokan jemaah haji khusus dibandingkan jemaah haji reguler.

    Dari pantauan Saleh, kualitas pemondokan jemaah haji khusus lebih jauh daripada pemondokan jemaah haji reguler. Selain jauh, fasilitas yang ada pun tidak memuaskan. "Kamar mandinya kotor. Tempat tidurnya pun tidak sesuai standar," katanya.

    Dari informasi yang dihimpun tim pengawas haji DPR, modus yang digunakan oleh penyedia jasa layanan haji khusus berbeda-beda. Salah satu adalah menempatkan jemaah haji khusus di hotel bintang lima untuk dua hingga tiga malam. "Setelah itu, jemaah dipindahkan ke rumah atau apartemen sewaan," kata Saleh.

    Jemaah haji khusus diinfokan bahwa apartemen sewaan yang mereka tinggali itu hanya sekadar transit saja. Namun faktanya, jemaah itu bisa menetap selama 10 hingga 12 hari di apartemen sewaan. "Transit kok sampai 12 hari. Mana layanan khususnya?" kata Saleh.

    Saleh mengakui pengelola haji khusus yang melakukan penipuan semacam ini tidak banyak. Namun ia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati sebelum memutuskan memilih biro perjalanan yang akan mengurus perjalanan ibadah hajinya. "Bayaran yang mahal tidak selamanya mendapatkan pelayanan yang terbaik," katanya.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.