3 Keluhan Jemaah Haji di Tanah Suci pada DPR  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jemaah calon haji melakukan tawaf mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, 12 September 2015. Masjidil Haram kembali dipadati para jemaah yang menunaikan ibadah haji. AP

    Jemaah calon haji melakukan tawaf mengelilingi Kakbah di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, 12 September 2015. Masjidil Haram kembali dipadati para jemaah yang menunaikan ibadah haji. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Pengawas Haji Komisi Agama DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan pihaknya masih menerima beberapa keluhan dari jemaah haji Indonesia tahun ini. "Keluhan paling banyak adalah seputar ruang klinik yang belum standar dan obat-obatan yang terbatas," katanya, dalam siaran pers yang diterima Tempo, Jumat, 18 September 2015.

    Saleh mengatakan di Tanah Suci, klinik satelit yang tersedia masih di bawah standar. Obat-obatan pun masih banyak yang tidak tersedia. "Terutama obat-obatan yang terkait dengan penyakit pernapasan," katanya.

    Selain itu, ada pula keluhan tentang rotasi bus salawat yang masih sering terlambat. Selain terlambat, bus yang mengangkut jemaah dari pemondokan ke Masjidil Haram sering sekali padat. Tidak jarang jemaah haji harus menunggu selama 45 menit hingga satu jam untuk menumpang bus itu. "Belum lagi, bis salawat dipakai oleh seluruh jemaah yang berasal dari berbagai negara," kata Saleh.

    Keterbatasan jumlah petugas pun dipertanyakan oleh jemaah haji Indonesia. Para petugas, kata Saleh, ada yang dinilai belum memahami peta persoalan haji karena sebagian petugas baru pertama kali berangkat ke Arab Saudi. "Tentu mereka membutuhkan waktu beradaptasi, padahal, jumlah yang harus dilayani sangat banyak dan persoalannya pun beragam," katanya.

    Walau menerima beberapa keluhan, Saleh menilai penyelenggaraan haji tahun ini lebih baik daripada penyelenggaraan haji tahun lalu. Pemondokan yang disediakan untuk para jemaah dinilai sudah sangat baik sebagaimana yang dijanjikan. "Layanan katering yang disajikan juga sudah memenuhi cita rasa Indonesia," katanya.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.