Lobi Pabrik Semen, dari Sarung hingga 10 Truk  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Kendeng di depan tenda pengunjuk rasa di kawasan pabrik PT Semen Indonesia, Rembang, Jawa Tengah, 17 Agustus 2015. Tempo/Stefanus Teguh Pramono

    Warga Kendeng di depan tenda pengunjuk rasa di kawasan pabrik PT Semen Indonesia, Rembang, Jawa Tengah, 17 Agustus 2015. Tempo/Stefanus Teguh Pramono

    TEMPO.CO, Jakarta - Menghadapi penolakan keras dari sebagian masyarakat Pegunungan Kendeng Utara, PT Semen Indonesia tak patah arang. Perusahaan pelat merah tersebut mendekati sejumlah kiai dan tokoh masyarakat supaya mendapat dukungan. (Baca: Ini Alasan Semen Indonesia Ngotot Bangun Pabrik di Rembang)

    Pembina Pondok Pesantren Kauman di Kecamatan Lasem, Rembang, Zaim Ahmad Ma’shoem, mengatakan perwakilan PT Semen Indonesia pernah menemuinya. “Mereka mengirim sepuluh paket berisi sarung dan buku mengenai pabrik semen,” ucap Gus Zaim--panggilan akrab Zaim Ahmad Ma’shoem.

    Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin, Rembang, yang diasuh Mustofa Bisri, juga ikut didekati. Yahya Staquf, kemenakan Gus Mus--panggilan akrab Mustofa Bisri, mengatakan PT Semen Indonesia pernah menawarkan sarung untuk para santri. “Tapi tidak jadi karena menjelang Lebaran para santri pulang,” ujarnya.  (Baca: Kenapa Pabrik Semen di Rembang Menuai Kontroversi?)

    Lobi PT Semen Indonesia diduga juga dilancarkan terhadap para penolak pabrik semen. Kepala Desa Timbrangan Nyono, misalnya, mengaku pernah ditawari duit Rp 1 miliar agar beralih mendukung pabrik semen. (Baca: Dua Surat Mbah Rono soal Pabrik Semen di Rembang)

    Belakangan, jumlahnya meningkat menjadi 10 truk senilai Rp 3 miliar. Syaratnya, Nyono harus bisa mengeluarkan para penolak pabrik semen yang masih berunjuk rasa dengan mendirikan “tenda perjuangan” di kawasan PT Semen Indonesia. Selain itu, Nyono diminta mengembalikan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) PT Semen Indonesia. “Kalau amdalnya tak bermasalah, kenapa diminta dikembalikan?” tuturnya.

    Direktur Utama Semen Indonesia Suparni dalam wawancara khusus dengan Tempo pada Senin, 31 Agustus 2015, membantah ada lobi-lobi ke kiai. “Ke kiainya tidak ada. Kalau, misalnya, kegiatan pesantren atau warga, ada bantuan. Tapi, kalau ke personal, tidak diberikan,” kata Suparni. Dia membantah mengucurkan duit untuk melobi penolak pabrik semen agar berbalik arah. “Tidak ada dari kami.”

    (Selengkapnya, baca majalah Tempo: Izin Janggal Bukit Kapur)

    TIM INVESTIGASI TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.