Ribuan Petani Tembakau di Beberapa Daerah Terancam Bangkrut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani membersihkan abu vulkanis yang menempel di tanaman tembakau di Desa Sido Dadi, Wongsorejo, Banyuwangi, 9 Juli 2015. Hembusan material vulkanis Gunung Raung selama 5 hari terakhir mengakibatkan hujan abu yang merusak tanaman petani di daerah Wongsorejo dan perkebunan Kalibendo. ANTARA/Budi Candra Setya

    Petani membersihkan abu vulkanis yang menempel di tanaman tembakau di Desa Sido Dadi, Wongsorejo, Banyuwangi, 9 Juli 2015. Hembusan material vulkanis Gunung Raung selama 5 hari terakhir mengakibatkan hujan abu yang merusak tanaman petani di daerah Wongsorejo dan perkebunan Kalibendo. ANTARA/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Aliansi Masyarakat Petani Tembakau Jember, Hendro Handoko mengungkapkan ribuan petani tembakau di Jember berada di ambang kebangkrutan. Kebangkrutan ribuan petani tembakau di Jember, Jawa Timur, ini lantaran pabrikan tidak mau membeli hasil panenan tembakau petani.

    Kalaupun ada pabrikan rokok yang bersedia membuka pembelian, Hendro mengatakan harganya sangat melecehkan. Hendro mengklaim kondisi saat ini adalah yang terburuk dalam sejarah petani tembakau Jember. "Hanya 10 persen yang terbeli dengan harga yang melecehkan," kata Hendro, Kamis, 17 September 2015.

    Dia mencontohkan untuk tembakau Kasturi (kering dan diunting), per kwintal hanya dihargai Rp 100-300 ribu. Padahal saat normal bisa mencapai Rp 4 juta. "Harga tembakau memang fluktuatif, tetapi tidak kemudian seperti saat ini," katanya.

    Hendro mengatakan pabrikan rokok tidak bersedia membeli tembakau Jember karena dampak abu vulkanik Gunung Raung terhadap tembakau. "Ini tidak hanya dirasakan petani tembakau di Jember saja," katanya.

    Secara terpisah, petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyiasati kondisi saat ini dengan menjual tembakau dengan lebih dahulu dirajang. Tujuannya, mendongkrak harga.

    "Tembakau dijual dengan cara dirajang lebih dahulu agar harga jualnya tidak sampai jatuh," kata Sugiono, petani asal Desa Krangkong, Kecamatan Kepohbaru, Bojonegoro. Dia menambahkan, "Karena, jika dijual berupa tembakau kering tetapi utuh, harganya jauh dari normalnya,"katanya.

    Harga tembakau di kabupaten ini anjlok di saat terjadi panen raya September 2015 ini.
    Harga tembakau rajangan kering di tingkat petani sekarang ini Rp 14 ribu per kilogram untuk kualitas bagus. Padahal, pada akhir Agustus harganya Rp 17 ribu per kilogram. Perbedaan harga itu dianggap merugikan petani sehingga biaya rajangan Rp 4000 per kilogram terpaksa dipilih.

    Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dinas Perhutanan dan Perkebunan Bojonegoro, Khoirul Insan mengatakan, bulan Agustus-September, adalah puncak panen tembakau. Menurut dia, tembakau yang dijual dan dibeli oleh pabrikan adalah yang kualitas bagus.

    DAVID PRIYASIDHARTA | SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.