Beda Indonesia dengan Korea Utara Menurut Marzuki Darusman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marzuki Darusman saat seminar tentang kekejaman rezim Korea Utara di seminar Jalan Panjang Penegakkan dan Penghormatan HAM di Korea Utara, di LIPI, Jakarta (29/4). Marzuki adalah pelapor khusus PBB untuk HAM Korut. TEMPO/Maria Rita

    Marzuki Darusman saat seminar tentang kekejaman rezim Korea Utara di seminar Jalan Panjang Penegakkan dan Penghormatan HAM di Korea Utara, di LIPI, Jakarta (29/4). Marzuki adalah pelapor khusus PBB untuk HAM Korut. TEMPO/Maria Rita

    TEMPO.CO, Jakarta - Marzuki Darusman, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Korea Utara, menceritakan dua rahasianya tentang Korea Utara. Cerita ini diungkapkan sebagai penutup Seminar Pendekatan ASEAN terhadap HAM di Korea Utara, Selasa, 16 September 2015. "Sebenarnya saya pernah ke Pyongyang,” kata Marzuki di Jakarta.

    Marzuki bercerita, ia pernah berkunjung ke Pyongyang saat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Peristiwa itu terjadi lebih dari 20 tahun lalu. "Saat itu di sana menyenangkan dan masyarakatnya ramah,” ujarnya. Marzuki menangkap kesan bahwa Korea Utara tengah mengalami proses kemajuan.

    Namun, ucap Marzuki, sekarang keadaannya berbalik dengan banyaknya pelanggaran hak asasi warga setempat. Ia mendapatkan keterangan dari beberapa orang yang melarikan diri dari Korea Utara. "Mereka memberikan kesaksian bahwa sekarang kondisinya terbalik," tuturnya.

    Sebelumnya, Marzuki menceritakan alasannya memperjuangkan HAM di Korea Utara. Menurut dia, persoalan HAM di sana berbeda dengan Indonesia. Ia mengatakan orang Indonesia dapat berbuat untuk dirinya sendiri. “Indonesia dalam posisi berdaya untuk mengubah nasibnya. Sedangkan warga Korea Utara dibuat total tidak berdaya, dan itu sudah berlangsung 60 tahun,” ujarnya.

    Marzuki menegaskan, sekarang terdapat kesenjangan keadaan HAM antara Korea Utara dan negara lain. Ia mengamati, selama puluhan tahun, pelanggaran HAM di Korea Utara telah luput dari sorotan dunia internasional. “Atau mungkin terbalik, mata internasional yang membiarkan hal itu lewat begitu saja,” ucapnya.

    Di Korea Utara, tutur Marzuki, kelaparan mengakibatkan matinya lebih dari 500 ribu penduduk. Kasus ini menjadi musibah kelaparan paling tragis pada abad ke-20. "Kalau tidak ada masalah, buktikan saja itu. Harapan saya, hari ini kita bisa memenangi kebenaran," katanya.

    ARKHELAUS WISNU



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.