Orang Gila dari Bandung Dominasi Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Rendra

    TEMPO/ Rendra

    TEMPO.CO, Bandung - Jumlah pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Jawa Barat didominasi oleh warga Kota Bandung. Tercatat hingga Agustus 2015, kota yang dipimpin oleh Wali Kota Ridwan Kamil ini menyumbang 11.363 pasien. Sementara peringkat kedua adalah Kabupaten Bandung dengan jumlah 2.561 pasien.

    "Pasien yang melakukan rawat jalan di RSJ Jawa Barat paling banyak dari Kota Bandung, disusul Kabupaten Bandung lalu Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi. Pasien yang dirawat inap juga rata-rata sama, sebanyak itu," kata Bidang Pelayanan Medik RSJ Jawa Barat, dr Leni Irawati, Rabu, 16 September 2015.

    Pasien yang mengalami gangguan kejiwaan berasal dari usia produktif, mulai dari 21 hingga 45 tahun, yang didominasi laki-laki. Penyebab gangguan jiwa tersebut bermacam-macam mulai dari masalah keluarga, perkawinan, biologis, sampai perceraian. Namun, penyebab yang paling utama adalah faktor ekonomi.

    "Biasanya karena tidak punya pekerjaan, dalam jangka waktu lama menimbulkan stres sampai jiwanya terganggu. Masyarakat di kawasan perkotaan sifatnya individualis jadi paling banyak yang mengalami gangguan jiwa, asalnya dari Bandung," bebernya.

    Menanggapi itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. “Sebagaimana layaknya kota besar, pasti ada saja orang stres,” kata Ridwan Kamil.

    Ridwan Kamil menambahkan, banyaknya orang gila dari Kota Bandung bukan berarti warganya tidak bahagia. Menurut dia, masih banyak kota-kota besar lainnya yang memiliki penderita gangguan kejiwaan dalam jumlah banyak. 

    “Kalau dibandingkan dengan Subang, mungkin memang lebih banyak. Tapi kalau dibandingkan dengan Jakarta, pasti kita lebih sedikit,” katanya.

    PUTRA PRIMA PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.