Beda Jadwal Idul Adha, Muhammadiyah: Ini Namanya Ijtihad  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dari Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Jakarta Pusat melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban Sapi di tempat penjualan hewan kurban di kawasan Tanah Abang, Jakarta, 10 September 2015. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menyambut idul Adha 2015. M IQBAL ICHSAN/ TEMPO

    Petugas dari Suku Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan Jakarta Pusat melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban Sapi di tempat penjualan hewan kurban di kawasan Tanah Abang, Jakarta, 10 September 2015. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menyambut idul Adha 2015. M IQBAL ICHSAN/ TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir meminta masyarakat tidak mempermasalahkan perbedaan jadwal perayaan Idul Adha. "Jangan dianggap hal ini merusak ukhuwah. Tidak usah dipermasalahkanlah," katanya saat dihubungi, Selasa, 15 September 2015.

    Haedar berujar, perbedaan jadwal Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah hanya soal perbedaan perhitungan waktu saja. "Metode perhitungannya saja yang berbeda," ucapnya.

    Muhammadiyah menggunakan tuntunan perhitungan hisab, sementara pemerintah menggunakan tuntunan rukyat. Tidak ada yang salah dengan keduanya. "Dalam Islam, ini namanya ijtihad. Kita berusaha bersungguh-sungguh dengan nalar berdasarkan Al Quran dan sunah Rasul," ujarnya.

    Urusan waktu, tutur Haedar, terus dipelajari manusia, termasuk umat Islam di dunia. Ia mencontohkan dalam perhitungan salat. Dahulu, orang yang hendak salat harus melihat posisi matahari dahulu, kapan waktu subuh, zuhur, asar, magrib dan isya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, setiap orang tidak perlu lagi melihat kondisi matahari saat hendak melaksanakan ibadah wajib tersebut. "Sudah ada ketepatan waktu salat dalam jam dan menitnya," katanya.

    Usaha itu sama dengan usaha menyamakan waktu hijriah dengan waktu masehi sesuai dengan nalar berdasar kitab suci. Haedar berujar, sebenarnya Muhammadiyah ingin ikut mempelopori unifikasi hari raya umat Islam. Waktu unifikasi ini pun sudah dibicarakan di beberapa forum internasional, tapi belum ada kesepakatan yang dihasilkan.

    Ia menuturkan perlunya penyatuan waktu hari raya itu dapat berakibat pada kepentingan banyak orang. "Setiap orang kan butuh kepastian waktu untuk rencana masing-masing. Itulah perlunya unifikasi kalender Islam," ucapnya.

    Sebelumnya, jadwal perayaan hari Idul Adha versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah Indonesia dan Arab Saudi. Muhammadiyah akan merayakan Idul Adha pada Rabu, 23 September 2015, sedangkan Arab Saudi dan pemerintah Indonesia melaksanakan hari raya kurban pada Kamis, 24 September 2015.

    MITRA TARIGAN

    Berita Menarik:
    Jutaan Rayap Mulai Serbu Ibu Kota, Ada Apa Gerangan?
    Ada UFO Sepanjang 60 Meter Terkubur Salju Benua Antartika?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.