Wartawan Kecam Aksi Kekerasan Polisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Polisi Indonesia. Getty Images

    Ilustrasi Polisi Indonesia. Getty Images

    TEMPO.CO, Watampone - Wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa, 15 September 2015, mengecam aksi kekesaran yang dilakukan oleh Kepala Unit Intel dan Kemanan Kepolisian Sektor Lappariaja, Kabupaten Bone, Aiptu Andi Rivai, terhadap enam orang wartawan di daerah itu.

    Ketua AJI Makassar, Gunawan, mengatakan aksi brutal Rivai, dan sejumlah aparat kepolisian lainnya melanggar kebebasan wartawan melakukan tugas jurnalistik, seperti diatur dalam Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers. “Polisi tidak dibenarkan melarang wartawan meliput suatu perstiwa, karena publik berhak mengetahuinya melalui pemberitaan pers,” katanya, Selasa, 15 September 2015.

    Gunawan menjelaskan, setidaknya 10 kasus kekerasan terhadap wartawan yang terjadi di Sulawesi Selatan, termasuk yang menimpa wartawan Koran Tempo Makassar, Didit Haryadi.

    Aksi kekerasan yang dilakukan Rivai terjadi Minggu dinihari lalu, 13 September 2015. Rivai dan sejumlah anggota kepolisian dan TNI bersuka ria di sebuah tempat hiburan malam di Bone, Venom.

    Rivai yang dalam keadaan mabuk tiba-tiba mengamuk. Tanpa sebab yang jelas dia berteriak-teriak meminta Disc Jockey (DJ) di tempat hiburan malam itu turun dari atas panggung. Namun, tidak digubris.

    Mendapat informasi tentang peristiwa itu, enam wartawan yang biasa bertugas di Bone mendatangi Venom guna melakukan peliputan. Wartawan koran Radar Bone, Lukman, mencoba memotret suasana. Namun, dihadang oleh Rivai dan aparat polisi lainnya.

    Lukman sempat mendengar suara botol pecah, sebelum keluar dari Venon, karena terus didorong oleh Rivai dan teman-temannya. “Meski saya sudah berada di halaman Venom, Rivai masih mengejar saya sambil mengancam, bisa mengerahkan orang untuk membunuh saya,” ujar Lukman, yang kemudian melaporkan peristiwa itu ke Polres Bone.

    Wartawan lain yang mencoba melerai juga mendapat ancaman serupa. Mereka diusir dan dilarang meliput di dalam ruang Venom maupun di sekitar halaman tempat hiburan malam itu. Rivai sesumbar mengatakan dirinya tidak takut pada wartawan. Bahkan, kalau wartawan merasa keberatan atas sikapnya, dipersilahkan melaporkan ke atasannya Kepala Polres Bone. “Silahkan ke Kapolres, saya tidak takut.”

    Hingga kemarin, Rivai masih menjalani pemeriksaan oleh penyidik Satuan Profesi dan Pengamanan (Propam). Namun, wartawan tidak bisa memperoleh hasil pemeriksaan terhadap polisi arogan itu. Lukman juga menjalani pemeriksaan hampir tiga jam.

    Adapun Kepala Bolres Bone, Ajun Komisaris Besar Juliar Nugroho, mengaku sedang berada di Makassar, bertemu dengan sejumlah wartawan senior. “Gak usah digede-gedein lagi, ya," ucapnya. Sikap Juliar berbeda dengan sebelumnya, yang mengatakan Rivai tidak saja dijatuhi sanksi disiplin dan kode etik, tapi juga diperoses secara pidana.

    Pada Senin lalu, 14 Setember 2015, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aji dan PWI menggelar unjuk rasa di depan Patung Lasinrang di Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Pinrang.

    Mereka mengecam aksi arogan anggota Polres Mamuju, Brigadir Fadli, yang merusak plat nomor sepeda motor wartawan Pare Pos, Muhammad Nur. “Kami tidak pernah mencari masalah, tapi mencari berita,” tutur salah seorang pengurus PWI Pinrang, Andi Nanrang.

    Bermula saat Muhammad Nur hendak menjemput adiknya di lokasi wisata Waterboom Bhayangkara, Pinrang, pada Ahad lalu, 13 September 2015. Sepeda motor yang dikendarai Nur berada di belakang sebuah mobil, yang ternyata dikemudikan oleh Fadli.

    Nur semula tidak mengetahui siapa pemilik dan pengendara mobil itu. Namun, merasa tersinggung karena dibuntuti oleh seseorang, Fadli marah. "He, kau siapa, kenapa mengikuti saya. Kau anggota polisi, kah," kata Fadil, seperti ditirukan oleh Nur.

    Nur sudah menjelaskan siapa dirinya dan apa tujuannya. Bahkan juga meminta maaf jika Fadli merasa terganggu. Namun, Fadli malah bertindak kasar, merusak plat nomor sepeda motor Nur sambil mengeluarkan kata-kata kasar.

    Nur kemudian melaporkan peristiwa itu ke Polres Pinrang. “Kami akan berkoorinasi dengan Polres Mamuju. Tapi pasti kami tindak,” ujar Kepala Polres Pinrang, Ajun Komisaris Besar Adri Irniadi.

    ANDI ILHAM | DIDIET HARYADI SYAHRIR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.