Kabut Asap di Sumatera, Pemerintah: Belum Bencana Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota TNI berusaha memadamkan api yang membakar perkebunan kelapa sawit di desa Padamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 12 September 2015. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan menyebabkan beberapa wilayah diselimuti asap. REUTERS/Beawiharta

    Sejumlah anggota TNI berusaha memadamkan api yang membakar perkebunan kelapa sawit di desa Padamaran, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 12 September 2015. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan menyebabkan beberapa wilayah diselimuti asap. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah belum berencana menjadikan kebakaran hutan di Sumatera sebagai bencana nasional. Fokus mereka saat ini adalah melakukan pemadaman secepat mungkin. ‎"Belum ada rencana itu, paling tidak saya belum tahu," kata Menteri Sekretaris Negara Pratikno setelah bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa, 15 September 2015. ‎‎

    Saat ini, kata dia, pemerintah terus melakukan percepatan pemadaman agar asap yang ditimbulkan akibat kebakaran bisa segera teratasi. "Seluruh energi sudah kami kerahkan. Sekarang tinggal bagaimana yang di lapangan bisa tetap aktif bergerak," ujarnya. 

    Selain pemadaman, pemerintah berfokus pada penanganan masalah kesehatan dan penegakan hukum.‎ Bahkan, menurut dia, Kalla juga memberi perhatian besar terhadap penanganan asap di berbagai lokasi.

    Pratikno mengatakan Kementerian Sekretaris Negara selalu menerima laporan dari berbagai kementerian dan lembaga mengenai bencana ini. ‎Namun, hingga saat ini, dia mengaku belum mendapat laporan soal taksiran kerugian, baik yang dialami perusahaan di sana maupun efek terhadap lingkungan setempat. "Itu bisa ditanyakan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kalau urusan sanksi, itu wewenang penegak hukum."

    Mengenai tawaran bantuan dari pemerintah Singapura, Pratikno mengatakan, hal itu masih dipertimbangkan. ‎"Namun setidaknya kita beruntung karena beberapa daerah sudah ada yang hujan. Misalnya, di Jambi dan Riau, itu sangat membantu," ujarnya.

    Kabut asap sisa kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Riau masih mengganggu kualitas udara meski telah diguyur hujan, seperti Pekanbaru, dengan jarak pandang masih berada di bawah ambang batas, yakni 700 meter; Pelalawan 500 meter; Rengat 50 meter; dan Dumai lebih baik, 4 kilometer.‎

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru menyebutkan satelit Tera dan Aqua masih memantau 48 titik panas yang diindikasikan sebagai kebakaran hutan dan lahan di Sumatera. Jumlah titik panas jauh menurun dari hari sebelumnya yang mencapai 982 titik. Sedangkan di Riau nihil.‎

    FAIZ NASHRILLAH‎


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.