Disebut Dapat Fee, Fadli Zon Akui Ada 'Hadiah' dari Trump  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua DPR Fadli Zon (ketiga kanan) menghadiri upacara sumpah kesetiaan Kandidat presiden A.S, Donald Trump, di Trump Tower, New York, 3 September 2015.  Spencer Platt/Getty Images

    Wakil Ketua DPR Fadli Zon (ketiga kanan) menghadiri upacara sumpah kesetiaan Kandidat presiden A.S, Donald Trump, di Trump Tower, New York, 3 September 2015. Spencer Platt/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon membantah menerima uang tunai dari Donald Trump ketika menyambangi kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik itu di kantornya, New York, pekan lalu.

    Ketika Fadli dan Ketua DPR Setya Novanto bertemu dengan Trump, politikus Partai Gerakan Indonesia Raya tersebut mengaku hanya mendapat sebuah bingkisan dari staf Trump. Fadli mengaku bingkisan itu merupakan suvenir dari pertemuannya dengan Trump.

    "Tidak ada fee atau amplop sama sekali. Yang ada hanya bingkisan yang isinya kalau tidak salah sebuah topi bertuliskan Trump," kata Fadli dalam sebuah konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin, 14 September 2015. 

    Sebelumnya, Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan DPR Junimart Girsang menduga ada uang yang terlibat dalam pertemuan Setya Novanto dan kawan-kawan dengan Donald Trump. Uang itu ditengarai sebagai fee atau bayaran dari pertemuan tersebut. "Setelah pertemuan, ternyata Donald Trump katanya memberi fee kepada S," ucap Junimart. (Lihat Video Lima Dugaan Pelanggaran Etik DPR, Merokok sampai Ijazah Palsu, Diduga Melanggar Kode Etik, Pimpinan DPR Terancam Dicopot)

    Selain topi bergambar Trump, Fadli membawa ole-oleh dalam lawatannya ke Amerika Serikat berupa beberapa buku karangan Trump. Buku itu berjudul Trump 101 dan Trump: The Art of the Deal. Ada pula majalah Time edisi 18 Agustus 2015 bergambar muka Trump dengan judul Deal with It.

    Tapi Fadli menegaskan, ia membeli sendiri buku-buku karangan Trump tersebut. Dia mengaku membeli buku-buku itu dengan maksud agar bisa ditandatangani oleh Trump. "Kemudian tentu saja kami selfie. Mudah-mudahan, selfie belum terlarang, ya," ujarnya.

    INDRI MAULIDAR 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.