Bupati Ini Menolak Pakai Mobil Dinas Mewah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan melintas di depan puluhan mobil dinas Pemkot Surabaya yang terparkir di halaman Balai Kota Surabaya (03/8). Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, melarang penggunaan 76 mobil dinas oleh pejabat Pemerintah Kota sebagai kendaraan mudik lebaran. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang karyawan melintas di depan puluhan mobil dinas Pemkot Surabaya yang terparkir di halaman Balai Kota Surabaya (03/8). Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, melarang penggunaan 76 mobil dinas oleh pejabat Pemerintah Kota sebagai kendaraan mudik lebaran. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengaku tetap memakai mobil dinas yang diwariskan pendahulunya berupa Toyota Camry keluaran 2009. Untuk blusukan, dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu mengaku setia memakai Daihatsu Taft tua keluaran 2002.

    "Karena saya memimpin kabupaten miskin, saya juga enggak mau nggaya, seperti pakai mobil dinas mewah," ujar Hasto di depan aktivis dalam pertemuan Pergerakan Indonesia di Pakem, Kabupaten Sleman, DIY, Ahad, 13 September 2015.

    Mobil dinas yang dia pakai sejak terpilih menjadi Bupati Kulon Progo pada Agustus 2013 itu merupakan kendaraan paling uzur yang dipakai kepala daerah di DIY. "Asal semua bisa jalan, daripada dihabiskan beli (mobil) Toyota Fortuner Rp 800 juta," ujar Hasto, yang juga dokter spesialis kandungan.

    Hasto pun mengaku terlahir dari keluarga miskin di Waduk Sermo di pucuk perbukitan Kabupaten Kulonprogo. Dari delapan saudara, hanya Hasto sebagai bungsu yang menempuh pendidikan tinggi.

    Angka kemiskinan di Kulon Progo berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik tahun 2013 masih tertinggi kedua se-DIY sebesar 21,3 persen di bawah Gunungkidul 21,7 persen. Sedangkan angka kemiskinan DIY masih tertinggi di Pulau Jawa, yakni 15 persen.

    Hasto pun heran, ketika blusukan ke persawahan di pedesaan Kulon Progo, dia kerap menemukan pemuda bertani atau menggembala ternak dengan tunggangan kendaraan tergolong mewah dan berkapasitas mesin besar. "Kalau masih miskin itu, jangan nggaya (bergaya)."

    PRIBADI WICAKSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.