Kabut Asap, Warga Palangkaraya Mulai Ungsikan Anaknya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan berjalan pelan menembus kabut asap yang menyelimuti Jalan Lingkar Selatan, Paal 10, Jambi, 7 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak, yakni 22 titik. Disusul Jambi sebelas titik, Sumatera Utara dua titik, Bangka Belitung satu titik, Sumatera Barat satu titik, dan Aceh satu titik. ANTARA/Wahdi Septiawan

    Kendaraan berjalan pelan menembus kabut asap yang menyelimuti Jalan Lingkar Selatan, Paal 10, Jambi, 7 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak, yakni 22 titik. Disusul Jambi sebelas titik, Sumatera Utara dua titik, Bangka Belitung satu titik, Sumatera Barat satu titik, dan Aceh satu titik. ANTARA/Wahdi Septiawan

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Asap tebal yang menutup Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sejak sepekan terakhir ini berdampak luas mulai dari ekonomi, kesehatan serta transportasi. Kondisi ini mengancam kesehatan anak-anak. Sehingga, para orang tua terpaksa harus mengungsikan anak-anak mereka keluar daerah. Kebanyakan memilih ke provinsi yang berdekatan, seperti Kalimantan Selatan.

    Isna, warga di bilangan Jalan Podang Palangkaraya, menuturkan, ia terpaksa harus mengungsikan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak ke rumah kerabatnya di Banjarmasin. Hal ini untuk menghindari semakin pekatnya kabut asap yang terjadi di Palangkaraya.

    “Saya terpaksa harus mengungsikan anak-anak demi kesehatan mereka. Bukan apa-apa, ini terpaksa saya lakukan sebab mereka berdua mempunyai penyakit asma. Nah kalau terkena asap, penyakit mereka jadi kambuh terus,” ujar Isna, Jumat, 11 September 2015.

    Isna harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memindahkan putranya. Apalagi, dia harus sering bolak-balik Palangkaraya-Banjarmasin untuk menengok buah hatinya.

    “Daripada saya harus kepikiran terus mengenai kondisi mereka di rumah, mendingan saya ungsikan untuk sementara waktu. Apalagi ada kebijakan dari sekolah untuk libur selama kabut asap,” terangnya.

    Warga Palangkaraya lainnya, Dita, mengatakan saat ini anaknya yang paling bungsu yang berusia 3 tahun mulai terserang penyakit batuk pilek dalam satu pekan ini.

    “Saya kira ini mungkin akibat dampak kabut asap ditempat kami. Saya sih pinginnya mengungsikan mereka ke rumah orang tua di Jawa, tapi siapa yang nungguin mereka, sementara saya dan suami harus bekerja,” keluhnya.

    Data Rumah Sakit Umum Daerah Dorrys sylvanus Palangkaraya, pada Agustus ini merupakan puncak penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) untuk pasien rawat jalan dan kebanyakan didominasi anak-anak usia 1-4 tahun.

    Menurut Kabid Diklit SDM dan Humas RSUD Dorrys Sylvanus, Theodorus Sapta Atmaja, jumlah penderita ISPA hingga dari januari hingga Agustus sebanyak 847 kasus dan yang rawat inap 90 kasus.

    "Terjadi peningkatan kasus baik rawat jalan maupun rawat inap. Kami mengimbau bila keluar rumah gunakan masker," ujarnya.

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.