Pengamat: Slogan "I Want SBY Back" Tidak Cerdas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kiri) didampingi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (kedua kanan) dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kiri) memantau persiapan pembukaan kongres Partai Demokrat ke-IV di Hotel Shangrila, Surabaya, Jawa Timur, 11 Mei 2015. ANTARA/Zabur Karuru

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kiri) didampingi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (kedua kanan) dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo (kiri) memantau persiapan pembukaan kongres Partai Demokrat ke-IV di Hotel Shangrila, Surabaya, Jawa Timur, 11 Mei 2015. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik Hamdi Muluk mengatakan penyataan Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas tentang slogan "I Want SBY Back" mirip dengan slogan pendukung rezim Soeharto yang mempopulerkan slogan "Piye Kabare, Enak Jamanku To?!". “Gaya komunikasi politik seperti dua semboyan itu tidak cerdas,” katanya saat dihubungi, Jumat, 11 September 2015.

    Hamdi mengatakan orang yang mempopulerkan "Piye Kabare, Enak Jamanku To?!" dan "I Want SBY Back" berpikir bahwa rezim Soeharto dan rezim Susilo Bambang Yudhoyono lebih baik dibandingkan dengan pemerintahan saat ini. Ibas, kata Hamdi, dinilai tidak bisa berpikir secara luas dengan mengklaim hal itu.

    Ibas pun, kata Hamdi, terlalu mengeneralisir kebagusan rezim ayahnya. Menurut Hamdi, Ibas tidak membandingkan kondisi eksternal pemerintahan SBY dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

    Dulu SBY seakan memerintah di laut tenang, sedangkan Jokowi memerintah di laut yang beriak. Kondisi ekonomi dunia, yang bukan kesalahan pemerintahan Jokowi, tidak disinggung oleh Ibas. Zaman SBY pun lebih mementingkan pertumbuhan ekonomi tanpa banyak melakukan pembangunan. “Kalau Jokowi kan ada banyak pembangunan infrastuktur, jadi ekonomi dalam negeri terkena imbas juga,” katanya.

    Hamdi mengatakan daripada mengklaim rezim SBY lebih baik, sebaiknya Ibas memberikan saran untuk perbaikan pemerintahan saat ini. Ibas pun diharapkan memberi tahu perbedaan berbagai perbedaan latar belakang pemerintahan Jokowi dan SBY. “Ibas bisa saja menyebut kontribusi Partai Demokrat yang bisa dilakukan sebagai langkah konkret mencapai perbaikan,” kata Hamdi.

    Selain itu, Ibas pun sebaiknya mengajak bahwa kader Demokrat lebih siap menghadapi pemilu 2019. “Bila ‘I Want SBY Back’ artinya mengusung SBY untuk 2019, terkesan sekali Demokrat tidak ada regenerasi serta tidak bisa move on,” katanya.

    Sebelumnya Ibas mengklaim banyak masyarakat yang merindukan sosok kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI. Menurut Ibas, rakyat menilai bahwa ayahnya berhasil memimpin Indonesia dibanding dengan pemerintah sekarang. "Banyak yang rindu dan bilang, 'I want SBY back'," kata Ibas saat memberikan sambutan dalam perayaan HUT ke-14 Demokrat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 9 September 2015.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.