Kasus Mayat Rusak Mahasiswi Kedokteran Masih Misterius

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pembunuhan

    Ilustrasi Pembunuhan

    TEMPO.CO, Kediri - Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Kediri, Jawa Timur, ditantang untuk memecahkan misteri kematian seorang mahasiswi kedokteran. Berbagai dugaan motif yang tumpang-tindih cukup menyulitkan penyelidikan kasus tersebut.

    Empat hari berselang seusai penemuan mayat Feny Anggrima Lestari, mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, di area persawahan Dusun Cangkring, Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Minggu, 6 September 2015, hingga kini polisi belum menemukan jejak pembunuhnya.

    "Perkembangan terakhir baru pengungkapan identitas korban yang sebelumnya tak dikenali," kata Kepala Sub-Bagian Humas Polresta Kediri Ajun Komisaris Anwar Iskandar kepada Tempo, Kamis, 10 September 2015. Menurut Anwar, pengungkapan identitas ini menjadi modal utama penyelidikan kasus tersebut.

    Sebabnya, saat ditemukan pertama kali oleh warga, seluruh bagian wajah mahasiswi semester pertama ini rusak parah dan tak bisa dikenali. Bekas luka lebam juga terdapat pada bagian perutnya. Kuat dugaan luka tersebut akibat penganiayaan yang disengaja untuk mengaburkan identitasnya.

    Apalagi tak ada satu pun kartu pengenal yang tersisa dari pakaiannya yang masih lengkap. Motif dugaan pembunuhaan ini makin rumit setelah keluarga korban di Kelurahan Kedondong, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, mengaku menerima telepon dari seseorang yang meminta tebusan sebelum mayat korban ditemukan.

    Permintaan itu terjadi dua kali dengan nominal yang berbeda, yakni Rp 5 juta pada saat pertama telepon, dan Rp 200 juta pada telepon kedua. "Saya enggan mengomentari dulu soal permintaan tebusan itu," kata Anwar, dengan alasan masih didalami tim Reskrim.

    Sementara itu, setelah sempat tertahan di ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Kediri, Jawa Timur, karena proses otopsi, mayat Feny akhirnya dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Nganjuk, Rabu malam, 9 September 2015.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.