Kebakaran Hutan, Pemerintah Diminta Perhatikan Lahan Gambut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perkebunan kelapa sawit dan permukiman terlihat dari udara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, 29 April 2015. Hasil penelitian terbaru Walhi menunjukkan lahan gambut seluas 914.067 hektare hilang dalam tiga tahun selama kebijakan moratorium kehutanan di Indonesia. ANTARA/FB Anggoro

    Perkebunan kelapa sawit dan permukiman terlihat dari udara di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, 29 April 2015. Hasil penelitian terbaru Walhi menunjukkan lahan gambut seluas 914.067 hektare hilang dalam tiga tahun selama kebijakan moratorium kehutanan di Indonesia. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabut asap yang melanda kawasan Sumatera dan Kalimantan selama beberapa pekan terakhir belum juga berhenti. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat terdapat sepuluh perusahaan yang diduga terlibat dalam pembakaran hutan.

    "Sebenarnya jumlahnya lebih dari itu," komentar Teguh Surya, juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia, di Jakarta, Kamis, 10 September 2015.

    Greenpeace meminta pemerintah supaya menyelesaikan akar masalahnya. Caranya dengan tidak menyelesaikan hal tersebut secara reaktif, melainkan preventif, yakni memperhatikan korelasi antara laju deforestasi (penggundulan hutan), kondisi lahan gambut, dan kebakaran hutan di Indonesia.

    Sebab, sebelumnya, pemberitaan yang ada justru menyebutkan komitmen pemerintah, dalam hal ini gubernur dan kepala kepolisian daerah di enam daerah yang terkena bencana kabut asap, untuk menyelesaikan masalah ini melalui empat langkah. Yakni melakukan hujan buatan dan pengeboman air, pemadaman darat, pelayanan kesehatan, dan sosialisasi.

    "Kalau sudah terjadi bencana asap seperti ini, tentu tidak berhasil bila dilakukan pemadaman dengan air. Sebab, lahan gambut yang kering merupakan bahan efektif untuk kebakaran," kata Teguh. Ia menyebutkan kondisi lahan gambut yang kering pada kedalaman tertentu, seperti 6 meter, dapat menyimpan bara api selama berbulan-bulan yang berpotensi menyebabkan kebakaran lanjutan. "Dan itu bila belum terbakar pun suhunya sudah panas sekali, sekitar 60 derajat Celsius."

    Karena itu, solusi paling baik menurut dia adalah menjaga supaya lahan gambut tetap basah. Pada musim penghujan, lahan gambut yang berair perlu disekat supaya air tidak keluar dan lahan tetap basah. Dengan demikian, hal ini akan meminimalkan lahan gambut menjadi kering dan berpotensi menyebabkan kebakaran. Cara ini pernah dilakukan pemerintah di Sungai Tohor, Riau, satu tahun lalu. Namun hal ini tidak direplikasi di tempat lain.

    Menurut Teguh, tindakan preventif seperti ini perlu dilakukan mengingat urgensi masalah di Indonesia. Data Greenpeace mencatat, dalam kurun waktu hingga 7 September 2015 saja, titik api yang ada sebanyak 8.540 dan tersebar paling banyak di pesisir timur Sumatera serta Kalimantan.

    INEZ CHRISTYASTUTI HAPSARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.