Kisah Bella, 17 tahun, Korban Kapal Tenggelam Selat Malaka  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim SAR mengevakuasi Jenazah korban perahu tenggelam di Hutan Melintang, Malaysia, 3 September 2015. Puluhan orang masih hilang dalam tenggelamnya sebuah kapal yang membawa pekerja pendatang dari Indonesia di lepas pantai sebelah barat Malaysia. The Malaysian Maritime Enforcement Agency via AP

    Tim SAR mengevakuasi Jenazah korban perahu tenggelam di Hutan Melintang, Malaysia, 3 September 2015. Puluhan orang masih hilang dalam tenggelamnya sebuah kapal yang membawa pekerja pendatang dari Indonesia di lepas pantai sebelah barat Malaysia. The Malaysian Maritime Enforcement Agency via AP

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Bella Vioela Jaya, 17 tahun, korban perahu tenggelam di Selat Malaka, ternyata bukan seorang tenaga kerja Indonesia. Menurut Sapuan, salah satu paman Bella, korban ke Malasyia untuk menemui ayahnya, Jaya bin Umar.

    “Ayahnya tinggal di Malasyia,” kata Sapuan ditemui Tempo di rumah duka, Dusun Krajan, Desa Taman Agung, Cluring, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu 8 September 2015.

    Menurut Sapuan, Bella pergi ke Malasyia seorang diri sekitar bulan Juli atau sebelum Lebaran 2015. Selama ini, Bella memang sering pergi menemui ayahnya di Johor, Malasyia, tanpa didampingi kerabat yang lain. “Dia memang pemberani,” katanya.

    Bella sendiri lahir di Malasyia hasil pernikahan Jaya dengan Evi Emi Cahya, perempuan asal Banyuwangi. Setelah orang tuanya berpisah, Bella menetap di kampung halaman ibunya. Dia sekolah di SMK 17 Agustus 1945 Cluring, Banyuwangi, tapi tak berhasil menamatkan pendidikan terakhirnya.

    Setiap kali pergi dan pulang dari Malasyia, kata Sapuan, Bella selalu naik pesawat. Oleh karena itu dia tak tahu persis bagaimana akhirnya Bella menumpang perahu. Sebelum hari nahas itu, Bella sempat menelepon Evi, ibunya, bahwa dia kabur dari rumah ayahnya. Sehingga Bella meninggalkan seluruh dokumen seperti KTP dan paspor.

    Kepada Evi, Bella juga mengabarkan bahwa dia pulang ke Indonesia dengan perahu. Sang ibu sempat melarang dan meminta Bella naik pesawat. Rupanya itu komunikasi terakhir Evi dengan Bella. Sekitar tanggal 3 September 2015, Evi syok bukan kepalang setelah mengetahui pemberitaan bahwa perahu yang ditumpangi anaknya bersama 60an TKI tenggelam di Selat Malaka.

    Jenazah Bella yang rencananya tiba Rabu dini hari tadi ternyata batal. Pihak keluarga sudah menyiapkan liang lahat bagi jenazah Bella di tempat pemakaman umum desa setempat.

    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.