Adian: Shamsi Ali dan Donald Trump Ibarat Bumi dan Langit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Shamsi Ali, (kanan kedua) seorang imam di Islamic Center of New York berfoto bersama Donald John Trump. facebook.com

    Muhammad Shamsi Ali, (kanan kedua) seorang imam di Islamic Center of New York berfoto bersama Donald John Trump. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Adian Napitupulu mengungkapkan bahwa Shamsi Ali dan Donald J Trump bagaikan Bumi dan Langit. Hal ini ia ungkapkan terkait ancaman somasi yang dilayangkan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon kepada imam masjid New York Shamsi Ali.

    "Antara Donald Trump dan Shamsi Ali seperti bumi dan langit, hitam dan putih, kotor dan bersih, sebuah kontradiksi abadi antara kejahatan versus kebaikan yang sudah ada sejak umat manusia ada," ujarnya dalam komentar tertulis Ahad, 6 September 2015.

    Shamsi Ali melayangkan kritik pada Fadli Zon, mengenai kehadirannya pada jumpa pers calon presiden kontroversial partai Republik, Donald J. Trump. Pada 2 September 2015, Ketua DPR Setya Novanto dan beberapa anggota DPR lainnya, termasuk Wakil ketua DPR Fadli Zon terlihat menghadiri jumpa pers Donald Trump di New York. Setya Novanto bahkan sempat naik ke podium dan berjabat tangan dengan Donald Trump.

    Kritik banyak berdatangan dari berbagai pihak, baik itu politisi dan publik. Pasalnya sosok Donald Trump merupakan sosok kontroversial. Dia dikenal sebagai pengusaha properti dan kasino. Dia juga merupakan penyelenggara kontes kecantikan Miss Universe dan Miss USA. Selain itu, ia dikenal sebagai seorang rasis. Salah satunya adalah mengenai komentar kerasnya terhadap imigran Meksiko.

    Kedatangan Ketua DPR beserta beberapa anggota dewan dianggap menyalahi kode etik. Kedatangannya seolah-olah menyiratkan dukungan Indonesia terhadap Donald Trump.

    Kritik juga datang, salah satunya dari Shamsi Ali. Shamsi merupakan imam masjid di New York. Ia melayangkan kritik kepada Fadli Zon terkait pertemuan ini. Hal ini kemudian berujung ancaman somasi dari Fadli Zon. Dalam Facebooknya, Shamsi mengutip ancaman dari Fadli yang mengatakan akan mengsomasi sebagai pelanggaran terhadap UU ITE apabila tidak mengkoreksi pernyataannya.

    Dalam posting yang sama, diperlihatkan pula tanggapan Fadli Zon terhadap kritik yang dilayangkan oleh Shamsi Ali. Menurutnya, kehadiran mereka telah merendahkan martabat bangsa dan negara untuk sekedar tersenyum di depan publik Amerika pendukung Donald Trump.

    Mengenai hal ini Fadli menjawab, "Martabat bangsa mana yang direndahkan dengan bertemu Donald J. Trump. Ia adalah pengusaha sukses sejak lama. Punya investasi di Indonesia. Bagi saya bagus ada investor masuk di saat ekonomi terpuruk. Saya sendiri merasa terhormat bertemu Donald J. Trump. Kami bukan ketemu seorang koruptor, penjahat perang atau kriminal, tapi pengusaha sukses yang berinvestasi di Indonesia!"

    Menanggapi hal ini, Adian menambahkan dalam kacamatanya, Donald Trump adalah orang kaya raya di dunia dan salah satu Raja Kasino yang saat ini jadi bakal calon presiden Amerika Serikat. Sementara, Shamsi Ali adalah Imam Masjid di New York yang kiprah keagamaannya diakui banyak media dalam dan luar negeri.

    Lebih lanjut ia juga menyatakan bahwa Donald Trump Membuka Kasino lengkap dengan hiburan pendukung mulai dari sexy dancer, bar dengan beragam minuman keras, wanita penghibur dan sebagainya.

    Di lain pihak, Sejumlah media menyebutkan Shamsi Ali adalah Uztad muda yang berhasil meng-Islam kan banyak orang Amerika. Mengajak orang Amerika meninggalkan dunia malam, meninggalkan minuman keras dan wanita penghibur. "Raja judi di puji, Imam Masjid di somasi" ujarnya dalam komentar tertulis.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI

    Baca juga:
    Drama Budi Waseso: Jokowi-JK Menguat, Kubu Mega Menyerah?
    Lebih Nyaman Berbahasa Inggris, Susi: Jangan Ragukan…Saya 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.