Cemas Menunggu Kabar dari Selat Malaka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim SAR mengevakuasi Jenazah korban perahu tenggelam di Hutan Melintang, Malaysia, 3 September 2015. Puluhan orang masih hilang dalam tenggelamnya sebuah kapal yang membawa pekerja pendatang dari Indonesia di lepas pantai sebelah barat Malaysia. The Malaysian Maritime Enforcement Agency via AP

    Tim SAR mengevakuasi Jenazah korban perahu tenggelam di Hutan Melintang, Malaysia, 3 September 2015. Puluhan orang masih hilang dalam tenggelamnya sebuah kapal yang membawa pekerja pendatang dari Indonesia di lepas pantai sebelah barat Malaysia. The Malaysian Maritime Enforcement Agency via AP

    TEMPO.CO, Pamekasan - Kecemasan terpancar jelas di wajah Mani, 50 tahun. Warga Dusun Secang, Desa Plapak, Kecamatan Pengantenan, Kabupaten Pamekasan, itu tidak tenang meski anaknya, Imam, 34 tahun, salah satu penumpang kapal nahas yang tenggelam di Selat Malaka, dikabarkan selamat. "Kabarnya anak saya selamat, tapi sampai sekarang belum bisa komunikasi," katanya, Sabtu, 5 September 2015.

    Berbagai upaya dilakukan keluarga Mani untuk mencari tahu nasib Imam sebenarnya. Namun keluarga atau kerabat yang berada di Malaysia belum dapat memastikan kondisi Imam.

    Imam tak sendiri di kapal itu. Istri, Hotimah; dua mertua, Hamid dan Sunah; ipar, Punadi; serta istri iparnya tersebut, Hosniyah, juga menumpang kapal yang sama. Mereka semua tinggal dalam satu rumah di Dusun Secang, Desa Plapak. Sejak dua tahun lalu, sekeluarga ini merantau ke Malaysia. "Semoga selamat semua," ujarnya.

    Yang paling terpukul atas musibah itu adalah Susmiyati, 18 tahun, anak bungsu Hamid dan Sunah. Selain ayah dan ibunya, dua kakaknya turut menjadi korban.

    Beberapa hari sebelum peristiwa nahas itu terjadi, ucap  Susmiyati, bapaknya mengabarkan akan pulang untuk menghadiri acara pernikahan Susmiyati, yang sedianya akan dilangsungkan pada 16 September mendatang. "Tapi mereka tidak memberi tahu bahwa akan naik kapal, bukan pesawat," tuturnya. "Saya hanya berharap mereka semua selamat."

    Abdul Aziz, kerabat korban, mengakui keluarga pamannya itu tidak berangkat melalui jalur resmi. Diduga, karena tidak memiliki dokumen resmi perjalanan, mereka hanya bisa pulang ke kampung halaman melalui jalur laut. "Mungkin juga untuk berhemat, jadi pulangnya memilih naik kapal," katanya.

    Menurut Aziz, kabar terakhir yang diterima keluarga, dari enam anggota keluarganya yang menjadi korban, dua di antaranya, yakni Punadi dan Imam, dikabarkan selamat dan saat ini berada di Kedutaan Besar RI di Malaysia. "Tapi sampai sekarang belum bisa berkomunikasi," ucapnya.

    Akibat musibah ini, ujar Aziz, keluarga Punadi sebagian shock berat dan tidak sadarkan diri.

    Sebuah perahu kayu tenggelam di Selat Malaka pada Sabtu, 3 September 2015, akibat kelebihan muatan dan dihantam gelombang tinggi. Sebanyak 24 penumpang yang merupakan WNI dikabarkan tewas.

    MUSTHOFA BISRI

    VIDEO KAPAL KARAM LAINNYA:

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.