Sering Diremehkan, Anang: Biar Waktu yang Menjawab  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Anang Iskandar. TEMPO/Tony Hartawan

    Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Anang Iskandar. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Narkotika Nasional Anang Iskandar mengaku sering diremehkan, terutama sejak masuk kepolisian. Kata dia, banyak yang meragukan kemampuannya berkarier di institusi Polri. "Anang anaknya tukang cukur, mana bisa. Sampai sekarang, masih banyak yang meremehkan saya," kata dia di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 September 2015.

    Hingga muncul kabar ia didapuk menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, masih banyak yang beranggapan miring tentangnya. Sejumlah pihak meragukan kemampuannya mengangkat citra Bareskrim seperti Komisaris Jenderal Budi Waseso. Namun, Anang berjanji akan membuktikan keberhasilannya memimpin Bareskrim.

    "Saya tidak perlu membuktikan kepada orang yang meremehkan saya. Saya hanya cukup membuktikan kepada alam," ujarnya. "Biar waktu yang menjawab."

    Ia berprinsip menangkap ikan tak perlu membuat airnya keruh. Artinya, kata Anang, tindakan penegakan hukum tak perlu membuat gaduh. Caranya dengan menyeimbangkan antara peningkatan kemampuan dan moralitas penyidik dengan proses penegakan hukum.

    "Selama ini polisi kan tahunya cuma nangkap-nangkapin orang saja, tapi tidak meningkatkan moralitas dan kemampuan. Padahal, itu bagian dari penegakan hukum," ujarnya

    Menurut dia, hal utama adalah pencegahan sebelum penindakan atau hukuman. "Bukan semata-mata nangkepin orang, kalau toh akhirnya menimbulkan kegaduhan," tutur Anang. Dia juga menegaskan siap melanjutkan kasus-kasus yang ditangani selama kepemimpinan Budi Waseso. Termasuk kasus dugaan korupsi mobile crane PT Pelabuhan Indonesia II dan kasus korupsi yang belum dirilis.

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.