Victor Ancam Mundur, Kapolri: Dia Sudah Pensiun 1 September  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Badrodin Haiti saat memimpin Upacara korps kenaikan pangkat di Rupatama, Mabes Polri,Jakarta, 3 September 2015. Kapolri juga menaikkan pangkat 4 perwira tinggi lainnya. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Kapolri Jenderal Badrodin Haiti saat memimpin Upacara korps kenaikan pangkat di Rupatama, Mabes Polri,Jakarta, 3 September 2015. Kapolri juga menaikkan pangkat 4 perwira tinggi lainnya. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian RI, Jenderal Badrodin Haiti, mengatakan ancaman mundur yang dilontarkan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse dan Kriminal, Brigadir Jenderal Viktor Simanjuntak, salah alamat. Menurut Badrodin, Viktor sebenarnya sudah pensiun per 1 September 2015.

    "Ancam mundur atau tidak dia juga akan diganti. Karena 1 September sudah selesai," kata Badrodin di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 4 September 2015. Badrodin bahkan mengaku sudah menyiapkan pengganti. Namun, Badrodin enggan menyebutkan siapa pengganti Viktor. "Pokoknya ada."

    Berita Komjen Buwas Dicopot

    EKSKLUSIF: Komjen Budi Waseso Blakblakan soal Pencopotannya
    Gantikan Komjen Buwas, Anang Iskandar Sedang Ada di Fiji
    Inilah Alasan Kapolri Badrodin Haiti Copot Komjen Buwas

    Sebelumnya, Brigadir Jenderal Viktor Edi Simanjuntak mengancam mundur jika atasannya, Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Budi Waseso dicopot. ‎"Kalau kasus crane yang dijadikan alasan pencopotan, saya akan mundur dari polisi juga," ujar Victor, Rabu, 2 September 2015.

    Kasus crane yang dimaksud adalah pengadaan mobile crane di pelabuhan yang dikelola PT Pelindo II. Bareskrim sedang menyidik kasus yang diduga melibatkan Direktur Utama Pelindo II R.J. Lino itu. Bahkan, Viktor menyebut pencopotan Waseso bisa membuat penyidik takut menangani kasus lain. ‎

    Jenderal Badrodin justru mempersoalkan pernyataan Viktor yang mengatakan adanya hubungan pencopotan Budi Waseso dengan kinerja para penyidik di Kepolisian. Menurut Badrodin, tidak ada yang berhak mengancam penyidik terkait penanganan kasus. ‎"Siapa yang mengancam? Enggak ada," ucap Badrodin.

    Sebelumnya beredar Surat Telegram Rahasia tentang pemberhentian dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Polri. Berdasarkan surat itu, salah satu pejabat yang diganti Komisaris Jenderal Budi Waseso ditugaskan sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional menggantikan Anang Iskandar.

    Kepala Kepolisian Jenderal Badrodin Haiti membenarkan bahwa Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Anang Iskandar akan diangkat menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal menggantikan Komisaris Jenderal Budi Waseso. Sebaliknya, Waseso akan menjadi kepala BNN.

    Berita Populer

    Jatuh dari Lantai 15, Kematian Alumnus UI Ini Tak Wajar
    Tekanan Les Bisa Membuat Anak Stres



    "Kami sudah terima Keputusan Presiden tentang pemberhentian Komjen Anang sebagai Kepala BNN dan pengangkatannya sebagai Kabareskrim," kata Badrodin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat 4 September 2015. Menurut dia, pertimbangan utama pergeseran jabatan itu demi kepentingan organisasi.

    Pergantian perwira, kata dia, hal yang wajar. Pertimbangan yang mendasari perwira berganti jabatan, yakni regenerasi karena memasuki masa pensiun, pembinaan karir, kepentingan organisasi, hingga persiapan karir bagi perwira itu. "Yang seperti itu ada karena dipersiapkan untuk calon pimpinan."

    Saat dikonfirmasi, Komisaris Jenderal Budi Waseso menyatakan dia tidak mempermasalahkan pencopotan dirinya dari Kepala Bareskrim Mabes Polri. "Tugas saya di mana saja, Insya Allah saya kerjakan sebaik mungkin," kata Budi Waseso saat dihubungi Tempo, Jumat pagi, 4 September 2015.

    Budi Waseso menegaskan sebagai polisi dia bisa bertugas di mana saja sesuai perintah Presiden Joko Widodo atau Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti. Budi Waseso telah mengetahui kabar pencopotannya dari jabatan prestisius di kepolisian tersebut secara lisan dari Presiden Jokowi.

    Namun ia belum mendapat salinan Telegram Rahasia atau surat Keputusan Presiden terkait penggantian jabatannya kepada Komisaris Jenderal Anang Iskandar. Meski demikian, dia belum mengetahui kapan akan serah terima jabatan. Menurut Budi Waseso, pelantikan dirinya diatur oleh Presiden.

    Jabatan barunya sebagai orang nomor satu di BNN menjadi kehormatan khusus baginya. Ia berjanji bekerja sebaik-baiknya. "Kalau jadi Kepala BNN, saya langsung di bawah Presiden. Jadi yang melantik Presiden, bukan Kepala Polri," ujar Budi Waseso. "Ini menjadi penghargaan bagi saya."  

    Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Anang Iskandar mengaku belum mengetahui perihal pengangkatannya menjadi Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri. Anang mengklaim belum mendapat surat pemberitahuan resmi untuk menggantikan posisi Komisaris Jenderal Budi Waseso.

    "Belum ada pemberitahuan resmi kepada saya, hanya kabarnya-kabarnya saja," kata Anang saat dihubungi Tempo, Jumat, 4 September 2015. Anang mengatakan ia baru tiba di Indonesia Kamis malam. "Saya baru mendarat jam 11 malam tadi," ujarnya. Anang baru pulang berkunjung ke Republik Kepulauan Fiji.

    FAIZ NASHRILLAH

    Artis AS Digerebek

    Artis AS Syuting Sinetron, Malah Ditangkap Usai Kencani Tamu
    Artis Cantik AS Digerebek Usai Layani Tamu, Muncikari Buron
    Tertangkap di Surabaya, Artis AS Bertarif Rp 8 Juta Per Jam


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.