Jadi Tersangka, Nina Nurlina Ngungsi di Rumah Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana kantor Pertamina Foundation saat penyidik Badan Reserse Kriminal Mabes Polri melakukan penggeledahan terkait kasus korupsi dana corporate social responsibility Pertamina sepanjang 2012-2014 di kawasan Simprug, Jakarta, 01 September 2015. Kerugian negara dalam korupsi ini sebesar RP 126 Milliar dari total nilai proyek Rp 256 Miliiar. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Suasana kantor Pertamina Foundation saat penyidik Badan Reserse Kriminal Mabes Polri melakukan penggeledahan terkait kasus korupsi dana corporate social responsibility Pertamina sepanjang 2012-2014 di kawasan Simprug, Jakarta, 01 September 2015. Kerugian negara dalam korupsi ini sebesar RP 126 Milliar dari total nilai proyek Rp 256 Miliiar. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Suasana sepi menyelimuti rumah berpagar hijau di Jalan Adityawarman Nomor 6 Jakarta Selatan, Rabu siang, 2 September 2015. Sesekali terlihat dua petugas jaga berseragam safari dan seorang satpam dari balik pagar kayu setinggi 1,5 meter itu. Di sisi kiri, terlihat dua orang tak berseragam sedang duduk di pos yang berukuran sekitar 2x1 meter.

    Seorang penjaga berbaju safari kemudian membuka pagar. Mobil Mercedes Benz E400 bernomor polisi B 1278 keluar dari garasi rumah berwarna putih dan tak begitu luas. Tampak seorang pria memakai jas namun tak begitu jelas duduk di kursi samping pengemudi. Sang satpam, Sujarwo, tak mau menyebutkan identitas penumpang itu.

    Sujarwo lalu menanyakan maksud kedatangan Tempo. Saat dijelaskan ingin bertemu Nina Nurlina Pramono, sang pemilik rumah, Sujarwo mengaku majikannya tak ada. "Bu Nina gak ada. Lagi ada acara di rumah anaknya. Acara cucunya," kata Sujarwo sambil menutup pagar. Sebelum pagar tertutup rapat, dia mengatakan mantan Direktur Eksekutif Pertamina Foundation itu jarang ke rumah di Jalan Adityawarman.

    Rumah di kawasan elit Jakarta Selatan tersebut merupakan rumah dinas suami Nina, Hardy Pramono. Hardy pernah menjabat sebagai President and General Manager Total E&P Indonesia. Sujarwo mengaku tak tahu kapan Nina pulang. "Saya tidak tahu berangkatnya jam berapa karena baru masuk pagi tadi, ini belum pulang," kata Sujarwo.

    Di depan rumah itu, juga terparkir dua mobil, yakni Kijang Innova putih B 1123 Ul dan Kia abu-abu B 1279 KKW. Sesekali sopir Kijang Innova masuk ke mobilnya kemudian masuk lagi ke rumah di kawasan belakang kantor Mabes Polri tersebut.

    Dua jam berselang dari mobil Mercedes Benz tadi, Toyota Alphard hitam bernomor polisi B 8828 LA juga keluar dari rumah Nina. Tak jelas siapa penumpang di dalamnya. Kaca mobil tertutup rapat dan tidak tembus pandang. Satpam juga tetap bungkam.

    Saat tes wawancara seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi pekan lalu, Nina mengaku punya banyak rumah yang tersebar di di Jalan Lembang Menteng, Cinere (Depok, Jawa Barat), Jatibening (Bekasi, Jawa Barat), Malang (Jawa Timur), dan Bandung (Jawa Barat). Tapi, ia tinggal bersama suaminya di rumah dinas yang disediakan Total E&P Indonesia.

    Selain rumah, Nina mengaku punya banyak mobil dan investasi condominium hotel di kawasan Cipanas, Bandung. Dia juga baru saja membeli mobil BMW seharga Rp1,7 miliar secara tunai.

    Menurut Nina, duit miliaran rupiah untuk investasi condotel berasal dari tunjangan pensiun suaminya. Gaji sang suami mencapai Rp 200 juta per bulan.

    Nina merupakan tersangka kasus dugaan korupsi Corporate Social Responsibility Pertamina. Nina diduga menyalahgunakan dana Gerakan Menabung Pohon di Depok, Jawa Barat, dan daerah lain di Indonesia pada 2012-2014. Kemarin, penyidik Badan Reserse Kriminal Mabes Polri juga menggeledah kantor Pertamina Foundation di Simprug, Jakarta Selatan.

    Bareskrim masih menyembunyikan identitas tersangka kasus dugaan korupsi dana CSR Pertamina itu. Namun, Kejaksaan Agung mendapat Surat Perintah Dimulainya Penyidikan kasus dana CSR untuk tersangka Nina Nurlina Pramono.

    LINDA TRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.