Pilkada Sepi, Dua Calon Wali Kota di Blitar Menolak Kampanye  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Pilkada. ANTARA/Saiful Bahri

    Ilustrasi Pilkada. ANTARA/Saiful Bahri

    TEMPO.CO, Blitar - Dua pasangan calon kepala daerah Kota Blitar tak menggunakan kesempatan kampanye yang disediakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) daerah setempat. Mereka justru memilih sarapan bersama tiap hari seperti tak sedang berkompetisi.

    Komisioner KPU Kota Blitar Mashudi mengatakan, sudah memberi jadwal dan kesempatan kepada para pasangan calon itu untuk melakukan kampanye mulai 27 Agustus hingga 5 Desember 2015. “Namun sampai sekarang belum ada pasangan yang kampanye,” katanya, Rabu, 2 September 2015.

    Pemilihan kepala daerah Kota Blitar diikuti dua pasangan calon, yakni Muhsin–Dwi Sumardiyanto dari calon independen dan inkumben Samanhudi Anwar–Santoso, yang diusung koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, NasDem, Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Golkar, Hanura, Partai Amanat Nasional, dan Demokrat. Samanhudi Anwar adalah Wali Kota Blitar yang menggantikan Djarot Syaiful Hidayat sekaligus Ketua Dewan Pengurus Cabang PDIP Kota Blitar. Sedangkan wakilnya Santoso adalah bekas Sekretaris Daerah Kota Blitar.

    Mashudi mengatakan hingga kini belum ada satu pun dari pasangan calon itu yang melakukan kampanye terbuka. Hal ini diketahui dari belum adanya surat pemberitahuan kegiatan kampanye yang disampaikan kepada kepolisian dan KPU. “Saya tidak tahu alasan mereka tak mau kampanye, tapi mudah-mudahan partisipasi masyarakat tinggi,” katanya.

    Samanhudi yang dikonfirmasi mengakui belum pernah melakukan kegiatan kampanye. Dia berdalih masih menghormati momentum peringatan Hari Kemerdekaan yang diikuti banyak kegiatan di masyarakat. Selain itu, dia juga lebih menyukai kegiatan kampanye tertutup dengan berdiskusi dari hati ke hati kepada masyarakat. “Cara ini saya kira lebih efektif daripada kampanye dengan panggung,” katanya.

    Uniknya, Samanhudi juga mengklaim kondisi politik di Kota Blitar selama pelaksanaan pemilihan kepala daerah ini sangat kondusif. Bahkan nuansa permusuhan baik di tingkat pasangan calon maupun pendukung disebutnya sama sekali tak ada. “Setiap pagi saya sarapan bareng dengan calon satunya, buat apa musuhan,” katanya, yang optimistis bisa menang.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.