Lulus dengan IPK 4,0, Mahasiswa Teknik Ini Mau ke Jerman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rian Mantasa Salve Prastica yang berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif 4,0. Pria asal Pati itu akan mengikuti wisuda pada Desember mendatang. TEMPO/Ahmad Rafiq

    Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rian Mantasa Salve Prastica yang berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif 4,0. Pria asal Pati itu akan mengikuti wisuda pada Desember mendatang. TEMPO/Ahmad Rafiq

    TEMPO.CO, Surakarta- Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rian Mantasa Salve Prastica, menyelesaikan kuliah dengan nilai sempurna. Rian lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,0 alias memperoleh nilai A untuk semua mata kuliahnya.

    Saat ini Rian menungggu giliran untuk wisuda. "Ikut Desember besok," kata Rian, Selasa, 1 September 2015. Sembari menunggu wisuda, Rian mencari informasi beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

    Menurut Rian, dia memiliki keinginan untuk menjadi dosen sehingga harus melanjutkan kuliah di strata dua. Rian ingin mencari beasiswa untuk belajar di Jerman atau Korea Selatan.

    Ada alasan khusus mengapa Rian memilih dua negara itu untuk menimba ilmu. Yang jelas, kedua negara itu merupakan negara yang cukup maju di bidang teknologi. "Selain itu dua negara itu juga cukup terbuka bagi para mahasiswa asing, terutama dari kalangan muslim," kata Rian.

    Sayangnya, hingga saat ini Rian belum mendapat tawaran beasiswa. "Mungkin nanti setelah wisuda," kata Rian.

    Rian merupakan mahasiswa yang berasal dari Pati, Jawa Tengah. Rian masuk ke UNS pada 2011. Selama kuliah, Rian sering mengajar untuk kelas angkatan di bawahnya lantaran menjadi asisten dosen.

    Koleksi nilai A langsung Rian dapatkan sejak kuliah di semester pertama.

    AHMAD RAFIQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Depresi Atas Gagal Nyaleg

    Dalam pemilu 2019, menang atau kalah adalah hal yang lumrah. Tetapi, banyak caleg yang sekarang mengalami depresi karena kegagalannya.