Ini Alasan Pansel Pilih 8 Nama Capim KPK  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sembilan srikandi anggota panitia seleksi calon pimpinan KPK saat konfrensipress di Istana Negara, Jakarta, 1 September 2015. Joko Widodo telah menerima secara resmi delapan nama capim KPK periode 2015-2019. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sembilan srikandi anggota panitia seleksi calon pimpinan KPK saat konfrensipress di Istana Negara, Jakarta, 1 September 2015. Joko Widodo telah menerima secara resmi delapan nama capim KPK periode 2015-2019. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Harikristuti Harikriswono, menilai delapan besar calon pemimpin KPK adalah sosok yang mau mendengar pendapat orang lain dan mau bekerja sama. Pagi tadi, Pansel menyerahkan delapan nama capim KPK kepada Presiden Joko Widodo.

    "Kami anggap yang kami pilih ini mau dengar orang lain, kami enggak mau yang keukeuh, pokoknya 'saya enggak mau begini'," ujar Tuti di kompleks Istana Kepresidenan, Selasa, 1 September 2015.

    Salah satu capim terpilih, Brigadir Jenderal Basaria Panjaitan, dianggap oleh pegiat antikorupsi berpotensi melemahkan KPK. Sebab, saat tahap wawancara, pengajar Sekolah Pimpinan Tinggi Polri, Brigadir Jenderal Basaria Panjaitan, menganggap Komisi Pemberantasan Korupsi selama ini memonopoli kasus. Menurut dia, tugas penyidikan seharusnya diserahkan ke kepolisian. Sedangkan fungsi penuntutan dibagi dengan kejaksaan.

    Dia menilai komisi antirasuah itu harus menguatkan fungsinya sebagai trigger mechanism atau mekanisme pendorong kinerja kepolisian dan kejaksaan. Menurut Basaria, tugas KPK yang menggarap sendiri kasusnya bisa berpotensi menimbulkan saingan di antara penegak hukum.

    Dia merujuk pada Pasal 6 Undang-Undang tentang KPK yang menyebutkan KPK berfungsi melakukan koordinasi dengan instansi kepolisian dan kejaksaan untuk memberantas tindak pidana korupsi.

    Menanggapi hal ini, Tuti mengatakan masih ada empat pemimpin lain yang bisa menyeimbangkan perbedaan pendapat. "Kan kolektif kolegial, satu setuju tapi empat bisa tak setuju," tutur Tuti.

    Ketua Pansel Destry Damayanti mengatakan delapan besar nama yang terpilih tak memiliki catatan kriminal. Mereka memutuskan memilih delapan orang tersebut setelah melihat hasil tes wawancara, kesehatan, dan catatan rekam jejak dari berbagai lembaga.

    Rekomendasi delapan nama yang disampaikan kepada Presiden dibagi menjadi empat kategori. Pertama, kategori pencegahan yang terdiri atas Saut Situmorang dan Surya Chandra. Kedua, kategori penindakan yang terdiri atas Alexander Marwata dan Basariah Panjaitan. Selanjutnya, kategori manajemen, yaitu Agus Rahardjo dan Sujanarko. Terakhir, kategori supervisi dan pengawasan, yaitu Johan Budi Sapto Pribowo dan Laode Muhammad Syarif. Rekomendasi diserahkan pagi tadi oleh semua anggota tim Pansel di Istana Merdeka.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.