Yogya Aman dari Aksi Teroris, Sultan Malah Kaget, Kenapa?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Sultan Hamengkubuwono X, berikan sambutan atas logo baru Jogja istimewa di kompleks kantor Gubernur DI. Yogyakarta, 5 Februari 2015. TEMPO/Suryo Wibowo

    Sri Sultan Hamengkubuwono X, berikan sambutan atas logo baru Jogja istimewa di kompleks kantor Gubernur DI. Yogyakarta, 5 Februari 2015. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menunjukkan ekspresi kekagetannya saat mengetahui DIY menjadi kawasan yang aman atau save house bagi kejahatan terorisme. “Justru saya khawatir kalau Yogyakarta dikatakan wilayah yang aman dan nyaman,” kata Sultan saat menerima rombongan Lemhanas di gedung Pracimosono, Kepatihan, Senin, 31 Agustus 2015.

    Sultan beralasan, jika Yogyakarta dikatakan aman dan nyaman dari tindak kejahatan teroris, maka tidak tertutup kemungkinan nantinya akan dipilih sebagai lokasi tempat tinggal bagi kalangan radikal. Mereka, para kelompok-kelompok radikal itu, kata Sultan, akan merasa aman dan nyaman pula tinggal di wilayah DIY karena tidak dicurigai. “Jadi mestinya DIY itu jadi save house, tapi juga diawasi,” kata Sultan.

    Pendapat Sultan itu menanggapi pernyataan Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Inspektur Jenderal Petrus Reinhard Golose saat bersama rombongan Lembaga Ketahanan Nasional menemuinya di Kepatihan, Yogyakarta. Rombongan Lemhanas datang dalam rangka Kunjungan Studi Strategis Dalam Negeri Lemhanas Angkatan 20.

    Petrus mengungkapkan, DIY menjadi save house dari upaya kejahatan teroris. “Upaya pengendalian kejahatan teroris dipusatkan di Yogya. Dan Yogya terbukti sukses,” kata Petrus.

    Beberapa tindak kejahatan teroris yang bisa digagalkan, menurut Petrus, seperti yang terjadi di Surakarta dan Sukoharjo. Soal permintaan Sultan agar wilayah DIY juga diawasi agar tidak terjadi tindak teroris, menurut Petrus, juga telah dilakukan.

    Petrus mencontohkan kasus penangkapan Zarkasih, mantan Ketua Mantiqi II Jamaah Islamiyah, di Jalan Kaliurang, Sleman. Zarkasih adalah alumnus kamp pelatihan militer Abbas, Afganistan, angkatan kelima (1987) atau dua angkatan di atas Abu Dujana. Ia lulus dengan predikat terbaik kedua di bawah Nasir Abas, mantan Ketua Mantiqi III (Sulawesi) Jamaah Islamiyah. “Jadi Yogyakarta itu sama-sama jadi save house kedua pihak,” kata Petrus.

    Saat ditanya tentang perkembangan saat ini, Petrus menegaskan, DIY sudah tidak menjadi save house bagi upaya pengendalian tindak teroris. “Sudah bukan lagi. Sekarang ini proses deradikalisasi,” kata Petrus, sambil buru-buru naik mobil.

    PITO AGUSTIN RUDIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.