Fotografer Tempo Juara Lomba Foto UNESCO

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wanita menarik kain merah dan para pria mengarak peti jenazah saat ritual Ma`Palao di Kecamatan Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 25 Agustus 2015. Ma`palo merupakan proses mengarak jasad dari rumah adat Tongkonan ke komplek pemakaman yang disebut Lakkian pada ritual pemakaman masyarakat Toraja atau Rambu Solo. TEMPO/Hariandi Hafid

    Sejumlah wanita menarik kain merah dan para pria mengarak peti jenazah saat ritual Ma`Palao di Kecamatan Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, 25 Agustus 2015. Ma`palo merupakan proses mengarak jasad dari rumah adat Tongkonan ke komplek pemakaman yang disebut Lakkian pada ritual pemakaman masyarakat Toraja atau Rambu Solo. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.CO, Makassar – Fotografer Tempo, Hariandi Hafid, berhasil meraih juara dalam lomba foto taraf internasional yang digelar United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) bekerja sama dengan China Folklore Photographic Association (CFPA).

    “Saya dihubungi panitia untuk datang ke Cina karena foto saya berhasil masuk nominasi juara dalam kategori traditional rites atau upacara tradisional,” ucap Hariandi, Senin, 31 Agustus 2015.

    Dalam lomba foto yang diberi nama Humanity Photo Award 2015 ini, Hariandi mengirim 15 foto dengan dua cerita: pembuatan perahu pinisi dan upacara adat Ma’nene di Toraja. “Tapi yang menarik bagi panitia hanya foto Ma’nene,” ujar Hariandi.

    Humanity Photo Award digelar setiap tahun. Lomba tahun ini adalah gelaran yang keenam. Acara tersebut melibatkan 4.171 peserta dari 115 negara dengan jumlah foto yang diterima panitia sekitar 7.000. “Saya senang bisa masuk nominasi. Tidak hanya itu, saya juga bangga bisa memperkenalkan budaya di Sulawesi Selatan ke dunia internasional melalui foto,” tutur Hariandi.

    UNESCO dan CFPA menggelar Humanity Photo Award untuk mendorong semua fotografer di dunia mendokumentasikan budaya dan cerita rakyat di daerah mereka secara mendalam lewat foto. Hasil dari foto pemenang pun akan dijadikan kekayaan budaya yang diarsipkan UNESCO.

    Upacara Ma’nene yang masih dipertahankan dan dipelihara oleh sebagian masyarakat di Tana Toraja adalah kegiatan mengunjungi makam leluhur kemudian membersihkan dan mengganti pakaian jenazah yang sudah berusia puluhan, bahkan ratusan, tahun dengan pakaian baru. Ma’nene banyak dilakukan masyarakat di daerah pegunungan Toraja bagian utara dalam dua atau tiga tahun sekali setiap Agustus. “Saya habiskan waktu satu minggu di Toraja untuk mencari dan mendapatkan foto ini,” kata Hariandi.

    Untuk mempertanggungjawabkan karyanya, alumnus Jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin itu mengaku diundang untuk hadir di Shangri La, Yunan, Cina pada 15-21 September mendatang serta menghadiri pameran foto semua pemenang lomba dengan tema “Memories of the Mankind”. “Karya saya juga mendapat kesempatan untuk masuk dalam Jury’s Special Award dalam puncak perayaan pemberian penghargaan,” ujar Hariandi.

    Hariandi menjelaskan, selama pelaksanaan pameran dan penganugerahan di Cina, semua biaya akomodasi ditanggung panitia. Namun biaya transportasi dari Makassar ke Cina dan sebaliknya ditanggung pemenang lomba. “Jadi sepertinya susah bagi saya untuk hadir,” tutur pria kelahiran Palopo, 17 Januari 1987, tersebut.

    MUHAMMAD YUNUS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.