Suparjiyem, Pahlawan Pangan dari Gunungkidul  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suparjiyem. Twitter.com

    Suparjiyem. Twitter.com

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Suparjiyem, 52 tahun, percaya diri mengisahkan kepiawaiannya dalam berkampanye tentang cara menanam pangan lokal, selain beras, di hadapan aktivis, Rabu malam, 26 Agustus 2015. Dia datang dari Desa Wareng, Wonosari, Gunungkidul, ke Hotel Eastparc untuk bertemu dengan mereka. Aktivis itu berasal dari Oxfam, organisasi non-pemerintah asal Inggris. Mereka datang dari Amerika Latin, Asia, dan Afrika.

    Suparjiyem adalah satu dari tujuh perempuan yang mendapat penghargaan Female Food Heroes Indonesia oleh Oxfam pada 2013. Dia dinilai berdedikasi menghadirkan pangan dan menghindari bencana kelaparan masyarakat di sekitarnya.

    Ibu dua anak itu berperan menggerakkan komunitas untuk memanfaatkan tanaman alternatif selain padi di Gunungkidul, daerah yang identik dengan kemiskinan. Tanaman uwi, gembili, garut, gadung, singkong, ganyong, dan jahe tumbuh subur di pekarangan penduduk. Suparjiyem melihat ada potensi untuk memanfaatkannya.

    Gunungkidul juga punya stok pangan berupa tiwul—makanan dari singkong—yang berlimpah. Tiwul menjadi makanan pengganti beras. Suparjiyem berinisiatif mengolah aneka pangan lokal itu menjadi tepung dan makanan bernilai ekonomis. Sejak 1981, dia gencar berkampanye menanam pangan alternatif.

    Di Gunungkidul, ada 47 perempuan yang berhimpun dalam Forum Petani Perempuan Gunungkidul. Mereka menggerakkan petani untuk menanam pangan alternatif. Saat ini sudah ada 900 petani yang terlibat. “Saya memberi contoh dengan membawa produk berbahan pangan lokal,” kata Suparjiyem.

    Tiap anggota bertugas menanam, mengolah, dan memasarkan sehingga hasilnya punya nilai tambah secara ekonomi. Misalnya garut, yang harganya Rp 2.000 per kilogram, setelah diolah menjadi aneka makanan dijual seharga Rp 10 ribu. Dari usaha itu, penduduk mendapat penghasilan tambahan Rp 15–20 ribu per hari.

    Tiap musim panen di Kecamatan Semin, dihasilkan 10 kuintal garut. Tepung garut dipasarkan di toko roti, dan anggota kelompok mengolahnya menjadi camilan.

    Suparjiyem kini banyak diundang untuk memberi pelatihan mengenai pengolahan pangan lokal, bahkan hingga ke Thailand. Direktur Keadilan Ekonomi Oxfam, Dini Widiastuti, mengatakan Suparjiyem punya peran penting dalam mempromosikan ketahanan pangan di Gunungkidul agar tak terjadi kelaparan. “Dia menggerakkan perempuan dan petani untuk memanfaatkan pangan lokal dan memberi nilai tambah secara ekonomi,” ujar Dini.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.