Merawat Wuon, Sekolah Adat Suku Meyakh di Papua Barat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak salto di udara sebelum masuk ke dalam air, anak-anak ini memanfaatkan sebuah dermaga untuk melompat ke dalam air. Raja Ampat, Papua Barat, 23 April 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

    Seorang anak salto di udara sebelum masuk ke dalam air, anak-anak ini memanfaatkan sebuah dermaga untuk melompat ke dalam air. Raja Ampat, Papua Barat, 23 April 2015. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.CO, Tambrauw  - Masyarakat suku Meyakh, Kampung Ayai di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat  selalu menjaga kearifan budaya lokal mereka yang terlihat di dalam sekolah adat. Untuk mempertahankan budaya dan nilai-nilai sakral turun temurun mutlak bagi generasi muda Suku Meyakh dalam sebuah sekolah adat. Dalam bahasa setempat disebut, Wuon atau rumah adat bagi kaum laki-laki belajar nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal.

    Para tua adat di kampung Ayai, mengatakan adat merupakan nilai-nilai kearifan yang menjadi perjalanan suatu fase hidup yang harus dipelihara dan dijaga dari waktu ke waktu.

    Walaupun nilai-nilai kearifan lokal tidak dituangkan dalam  bentuk tulisan tetapi pesan-pesan moral yang disampaikan menjadi kaidah-kaidah bisa dipegang dalam kehidupan mereka sehari-hari.

    "Bagi mereka,  sekolah ini tidak mengenal batasan umur, bilapun anak masih berada di dalam kandungan ibu,  tetapi kalau berniat untuk ke sekolah adat, maka sejak dini perlakuan khusus dalam keluarga sudah mulai diterapkan,  mulai dari pola makan serta hal-hal yang menjadi pamali atau pantangan/ larangan bagi anak oleh ibu yang lagi mengandung/hamil," kata Dominggus Mampioper seperti dikutip dari Tabloidjubi.com, Jumat, 21 Agustus 2015.

    Sejak anak tersebut lahir sampai umur 12  hingga 15 tahun, anak tersebut akan di asingkan dari kampungnya. Dia akan  dikirimkan ke Wuon  yang berada jauh dari kampung, yakni  antara 15 – 30 km dari kampung.  

    Dalam  menempuh sekolah adat dapat di bagi dalam tiga  tahap yang ditempuh masing-masing  tiga bulan, enam bulan dan 1 tahun.

    Dalam menjalani sekolah adat  bila ada yang sudah berkeluarga, pasangan dari peserta sekolah adat juga harus mengikuti aturan yang berlaku. Misalnya, jika seorang suami mengikuti sekolah adat maka di rumah adat Wuon   tata aturan juga harus diikuti oleh istrinya di rumah (kampung).

    Bila dalam menjalani pendidikan adat ada kejadian yang luar biasa yang menyebabkan celaka hingga meninggal, pihak keluarga tidak akan marah. Sebab mereka meyakini bahwa kejadian itu disebabkan oleh si peserta sekolah adat melanggar aturan-aturan yang berlaku yang akhirnya membawa musibah.

    Itulah nilai-nilai sakral bagi pendidikan adat di suku Meyakh, sehingga kesiapan mental dan kesepakatan keluarga sudah menjadi prosedur sebelum mereka menyetujui anaknya untuk bersekolah di sekolah adat. Termasuk kesiapan atas konsekwensi dalam pendidikan seperti meninggal atau sakit. bila ketahuan melanggaran aturan-aturan yang sudah ditetapkan maka, para pendidik tidak segan memberikan hukuman yang cukup berat.

    Mereka yang tamat dari pendidikan adat, akan di hargai dikampung oleh penduduk. karena mereka yang sudah menempuh berbagai tantangan dan rintangan selama sekolah layak mendapatkannya. Tidak  semua masyarakat di kampung dapat menghadapi pendidikan adat seperti itu. biasanya, setelah selesai pendidikan adat keluarga akan membuat pesta penyambutan dan dapat kembali ke kampung berkumpul dengan keluarga.

    Pendidikan adat atau sekolah adat hampir berlaku di seluruh tanah Papua misalnya di Teluk Humbold dikenal dengan nama Rumah Karawary untuk pendidikan akil balik atau pemuda. Begitupula di Byak dengan Rumsram untuk memasuki usia pemuda harus melakukan upacara Wor K’Bor alias memotong ujung kulit kelamin anak-anak laki-laki.

    "Sayang pesta akil balik atau pendidikan dalam sekolah adat sudah hilang, hanya masyarakat di Suku Meyakh yang masih mempertahankan termasuk masyarakat di Kepulauan New Britania Papua Nugini," kata Dominggus.

    TABLOIDJUBI.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.