Dikeroyok, Anggota TNI Tembak Dua Warga Sipil Hingga Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi penembakan. haihoi.com

    ilustrasi penembakan. haihoi.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia Mayor Jenderal Endang Sodik mengatakan insiden penembakan yang terjadi di Jalan Bhayangkara, Distrik Mimika Baru, Papua, berawal dari kesalahpahaman. Awalnya, anggota Kodam XVII/Cenderawasih, Sersan Satu Ashar berniat mencari temannya yakni Sersan Kepala Makher sekitar pukul 01.30 WIT, lantaran tak kunjung kembali ke pos.

    "Saat mencari si Makher, Ashar bertemu masyarakat, di situ sudah ada polisi," kata Endang saat dihubungi Tempo, Jumat, 28 Agustus 2015. "Warga sekitar bilang Makher tidak ada, akhirnya Ashar melanjutkan pencarian."

    Ketika melanjutkan pencariannya, Ashar menemukan motor Makher di sebuah jalan. Saat akan mencari Makher yang tak nampak di sekitar lokasi, tiba-tiba satu kelompok yang terdiri sekitar 50 orang menghadang Ashar. "Di situ Ashar menjelaskan kalau mau mencari temannya, tiba-tiba dipukul dari belakang," ujarnya.

    Sejumlah orang mengeroyok Ashar dari belakang hingga bersimbah darah. Mereka juga berusaha mengambil senjata Ashar. Karena senjatanya mau direbut, Ashar membela diri dengan melepaskan tembakan ke udara dua kali. Ternyata  tembakan Ashat itu mengenai warga. "Jadi, ini cuma salah paham, ada yang terprovokasi, sehingga mengakibatkan ada yang terluka," ujar Endang.

    Korban meninggal dalam insiden ini adalah Imanuel Mairimau (23 tahun) dengan luka tembak di leher tembus ke kepala belakang dan Yulianus Okoare (23 tahun) dengan luka tembak di perut tembus ke belakang. Sedangkan, korban yang sedang dirawat di rumah sakit antara lain Martinus Apokapo (24 tahun) dengan luka tembak di pinggang kiri, Martinus Imatupa (17 tahun) dengan luka tembak dada kiri, mengenai paru-paru, serta Thomas Apoka (20 tahun) dengan luka tembak di paha kanan dalam tembus.

    Meski upaya membela diri, kata Endang, Ashar juga akan dimintai pertanggung jawaban. Seluruh biaya perawatan rumah sakit dan santunan keluarga korban meninggal ditanggung TNI. "Situasi saat ini sudah cukup membaik. Pangdam, Dandim, sudah berkomunikasi dengan keluarga para korban," ujarnya.

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.