Nilai Dolar Naik, Perajin Tahu di Banyumas Kelimpungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perajin tahu di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Banyumas sedang membuat tahu untuk dijual ke sejumlah pasar di Kabupaten Banyumas, (24/7). Mereka mengeluhkan kenaikan harga kedelai dalam sepekan terakhir ini dari Rp 6.000 menjadi Rp 8.000 perkilogram. Tempo/Aris Andrianto

    Perajin tahu di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Banyumas sedang membuat tahu untuk dijual ke sejumlah pasar di Kabupaten Banyumas, (24/7). Mereka mengeluhkan kenaikan harga kedelai dalam sepekan terakhir ini dari Rp 6.000 menjadi Rp 8.000 perkilogram. Tempo/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Purwokerto - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika memaksa perajin tahu di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, mengurangi produksi. Harga kedelai semakin hari terus melonjak. Terakhir, harganya mencapai Rp 7.500 per kilogram.

    Seorang perajin tahu Kalisari, Sumirah, mengatakan dampak nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah membuat usaha pembuatan tahu mengalami penurunan. Sebelum harga naik, Sumirah, 50 tahun, bisa memproduksi tahu dengan bahan baku kedelai mencapai 100 kilogram tiap hari.

    Saat ini, dia hanya mampu memproduksi 80 kilogram per hari. “Menyiasatinya dengan pengurangan produksi. Dari 100 kilogram menjadi 80 kilogram kedelai per hari,” katanya, Kamis, 27 Agustus 2015.

    Menurut Sumirah, hanya dalam waktu sepekan, harga kedelai naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.500. Tiap hari kenaikan sekitar Rp 100-200 per kilogram. Hal itu membuat dia harus mengatur keuangan, baik untuk kedelai, bahan bakar berupa kayu, maupun operasional. “Kalau sampai Rp 8.000 per kg, kami tidak bisa apa-apa,” ujarnya.

    Dia mengatakan saat ini yang penting bisa menutup operasional, bahan bakar, dan beli kedelai. “Untuk bicara untung, kami belum bisa. Terpenting, usaha turun-temurun ini terus berjalan,” tutur Sumirah. (Lihat Video Pelaku Industri Dihimbau Gunakan Bahan Baku Lokal, Indeks Melorot Karena Yuan, Rupiah Terus Melemah Krisis Ekonomi 1998 Bisa Terulang)

    Perajin tahu lain, Karsono, 45 tahun, tiap pekan harus mengeluarkan Rp 600 ribu untuk satu rit kayu bakar. Satu rit kayu bakar itu habis untuk memasak 500 kg kedelai menjadi tahu. Belum pengeluaran operasional, seperti bensin dan ongkos pekerja, yang mencapai Rp 150 ribu per hari.

    “Pengeluarannya banyak. Saat kayu bakar habis, uang belum terkumpul. Padahal butuh kayu bakar untuk memasak atau memproduksi tahu. Sementara penjualan tahu di Pasar juga sepi,” ucap Karsono, yang setiap hari berjualan tahu di Pasar Cilongok. 

    Dia berharap harga kedelai bisa turun dan perajin tahu tidak gulung tikar. “Saya berharap pemerintah bisa menekan harga kedelai impor atau ada subsidi supaya perajin tahu tetap bertahan,” katanya.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.