WADUK JATIGEDE: Ahli Waris Cemaskan Ini Bila Makam Keramat Dipindah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat beroperasi di Sungai Cimanuk, Darmaraja, Sumedang, 2 Agustus 2015. Sungai Cimanuk yang berhulu dari Gunung Papandayan menjadi salah satu sumber utama untuk menggenangi Waduk Jatigede. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Alat berat beroperasi di Sungai Cimanuk, Darmaraja, Sumedang, 2 Agustus 2015. Sungai Cimanuk yang berhulu dari Gunung Papandayan menjadi salah satu sumber utama untuk menggenangi Waduk Jatigede. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Bandung - Soal rencana pengenanngan Waduk Jatigede dalam waktu dekat membuat cemas Ketua Dewan Kebudayaan Sumedang Edah Jubaedah.  Menurut Edah, keturunan pemilik tiga situs makam tokoh yang dipercaya sebagai cikal-bakal Kerajaan Sumedanglarang itu memilih tidak dipindahkan dari lokasi genangan waduk Jatigede, Sumedang. “Ada keyakinan, semacam kepercayaan sejak dulu di sana. Ada ‘uga’,” kata dia di Bandung, Rabu, 26 Agustus 2015.

    Situs yang dimaksudnya adalah sejumlah makam keramat yang berada dalam kawasan Situs Cipeueut di Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja,Sumedang. Lokasinya di sekitar Waduk Jatigede. Di situ, ada tiga makam utama ada dalam Situs Ciepueeut itu yakni Makam Prabu Guru Aji Putih, Makam Ratu Inten Dewi Nawang Wulan, serta Makam Sanghyang Resi Agung. Tiga tokoh itu dipercaya warga Sumedang sebagai cikal bakal pendiri Kerajaan Sumedang Larang.

    Edah mengatakan, ‘uga’ yang dimaksudnya adalah ramalan yang berisi larangan pemindahan tiga makam tersebut. “Misalnya kalau Waduk Jatigede jadi, akan banyak keuyeup bodas, kadipaten kapapatenan, memang kondisinya Kadipaten berada di bawah bendungan. Kalau jebol habis Kadipaten dan Tomo,” kata dia.

    Menurut Endah, masyarakat yang meyakini “uga” tersebut mempercayai tiga makam tokoh yang dikeramatkan warga itu semacam Pakubumi. Istilahnya, Cipaku. “Cipaku yakni Cicingkeun, Kukuhkeun, ada juga yang mengartikan Tugu Cipaku, penetapan,” kata dia. “Kalau ini dipindah, khawatir malah jadi kendala untuk proses penggenangan selanjutnya. Kalau dipindah bisa terjadi sesuatu.”

    Tiga tokoh itu diyakini berkaitan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Sumedanglarang. Prabu Guru Aji Putih misalnya, diyakini sebagai pendiri Kerajaan Tembong Agung. “Prabu Guru Aji Putih memiliki anak bernama Prabu Tajimalela, ini yang mendirikan Kerajaan Sumedanglarang, yang sampai sekarang keturunannya masih ada,” kata Endah.

    Tokoh Ratu Inten Dewi Nawang Wulan diyakini istri Prabu Aji Putih. Lalu tokoh Sanghyang Resi Agung diyakini sebagai tokoh yang menyerahkan tahta kerajaan Tembong Agung.

    Endah mengatakan, penempatan penanda tiga situs makam tersebut yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan situs terapung di atas genangan Waduk Jatigede sudah digenangi. “Misalnya direndam, penanda ini bisa menjadi penggantinya untuk melakukan ziarah. Ruhnya tidak terlalu hilang, tetap berada di tempat yang sama,” kata dia.

    Menurut Endah, lembaganya berkepentingan untuk mempertahankan situs budaya di Jatigede sebagai aset untuk pengembangan wisata. “Kalau ada rencanan semacam membuat ‘makam terapung’, ada daya tawar lain kalau ini jadi aset wisata, artinya Sumedang tidak gigit jari,” kata dia.

    Waduk Jatigede dinilai tidak bermanfaat langsung bagi warga seputaran waduk itu. “Kalau harus mencari manfaat lain, membidik sektor pariwisata karena aset budaya seperti situs ini bisa menjadi daya tawar Sumedang ke depan,” kata Endah.

    Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Nunung Sobari mengklaim, sudah merekam dan mendata semua situs yang yang ada dalam lokasi genangan Waduk Jatigede. “Sehingga ketika relokasi, ada penanda dan rekaman-rekaman tentang kesenian, kebiasaan ritualnya, upacaranya. Dan kedepan akan dihibahkan ke Museum Jatigede kalau sudah dibentuk,” kata dia di Bandung, Rabu, 26 Agustus 2015.

    Seluruhnya terdapat 48 situs di kawasan genangan Waduk Jatigede. Tiga belas yang belum dipindahkan, termasuk tiga makam tokoh yang dipercaya sebagai cikal bakal pendiri Kerajaan Sumedanglarang.

    Sepuluh situs yang tersisa akan direlokasi. “Pengertian relokasi itu bukan kawasan yang dipindahkan, site tidak bisa dipindahkan, tapi elemen-elemen situsnya seperti batu atau apa yagn menjadi elemen situs tersebut,” kata dia. Termasuk di dalamnya Situs Tanjungsari dan Astanagede.

    Nunung mengatakan, proses pemindahan 12 situs itu masih menunggu kepastian lokasi baru. “Sudah kelihatan arah minta dari turunan pemilik situs, setelah mendapat domisili baru, tempat baru, situs-situs itu akan dibawa ke sana. Tapi penanganannya melalui cara-cara kecagar-budayaan,” kata dia.

    Tim ahli yang terdiri dari arkeolog, ahli teknis arkeologis, dengan melibatkan warga akan mengerjakan pemindahan situs tersebut. Nunung mengatakan, pemerintah menyediakan dana Rp 3 miliar untuk pemindahan situs tersebut.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.