Kisah Pengemis Pasuruan yang Tahun Ini Naik Haji  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Satuan Polisi Pamong Praja memberikan pengarahan terhadap sejumlah gelandangan dan pengemis (Gepeng) dikawasan Terminal Senen, Jakarta, Rabu (14/7). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Petugas Satuan Polisi Pamong Praja memberikan pengarahan terhadap sejumlah gelandangan dan pengemis (Gepeng) dikawasan Terminal Senen, Jakarta, Rabu (14/7). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Pasuruan - Ansori, 77 tahun, seorang pengemis yang tahun ini naik haji, warga Dusun Lojok RT 2 RW 5, Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugulkidul, Kota Pasuruan, Jawa Timur, ternyata sejak kecil hidup menggelandang. Ia mulai mengemis pada 1980.

    "Sejak kecil saya sudah hidup sebatang kara. Bapak saya hilang entah ke mana pada waktu pendudukan Jepang, sementara ibu meninggal. Dan saya hidup sebatang kara lagi setelah ditinggal istri," kata Ansori saat ditemui Tempo di rumahnya, Rabu, 26 Agustus 2015.

    Setelah kedua orang tuanya tiada, Ansori kecil hidup menggelandang. Ia sempat dua tahun hidup di sawah dengan makan buah seadanya. Sebelum memutuskan menggelandang, saat lapar, ia terpaksa makan pecahan batu bata karena tidak ada orang yang memberi nasi.

    “Biasanya saya makan pecahan batu bata di depan pintu rumah. Kalau enggak gitu, saya mengumpulkan rumput, kemudian rumput itu saya tawarkan ke orang untuk dibeli. Hasil dari menjual rumput kemudian saya buat makan,” ujarnya mengenang.

    Saat menggelandang di sawah, Ansori pernah mengalami sakit parah sehingga tidak bisa berjalan. Pernah dia dikepung luwak dan pernah juga harus mengesot untuk mengambil air minum di sungai. "Badan saya saat itu tidak bisa bergerak. Kulit saya mengering," ceritanya.

    Beranjak remaja, Ansori menggelandang di jalan, tidur di sembarang tempat, dan makan apa saja yang bisa dimakan. "Saya baru berhenti menggelandang setelah menikah dengan almarhum istri saya, Arliyah," tuturnya.

    Kapan menikah? Ansori tak ingat. Namun, dia menyebutkan, saat menikah di kantor urusan agama, ia membayar ongkos Rp 25 ribu. Setelah menikah, Ansori bekerja serabutan, termasuk menjadi buruh tani sebelum kemudian memutuskan mengemis.

    Ansori mengaku baru memiliki niatan naik haji setelah ditinggal istrinya. “Saya punya niatan naik haji sekitar tujuh tahun sebelum saya daftar haji tahun 2009,” ucapnya. Saat mendaftar, Ansori baru membayar Rp 20,5 juta. Adapun totalnya Rp 42,5 juta.

    Untuk bisa membayar uang sebanyak itu, ia mengaku menabung Rp 5.000 per hari. Uang itu ia titipkan ke Kayum, kenalannya. Dari mengemis di sekitar Pasuruan, sehari Ansori rata-rata bisa mengumpulkan Rp 20 ribu. “Rp 15 ribu untuk makan dan sisanya ditabung.”

    Ansori baru melunasi ongkos haji itu pada 2014. Ansori tergabung dalam kelompok terbang 44 yang akan berangkat tanggal 8 September 2015. Untuk mempersiapkan keberangkatannya, Ansori dibantu Siti Fatimah, tetangganya satu dusun. Kini Ansori berhenti mengemis. “Sejak Lebaran saya berhenti,” katanya.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.