JIAD: Majelis Ulama Indonesia Jangan Murka kepada 'Tuhan'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tukang kayu bernama tuhan. Tempo/Ika Ningtiyas

    Tukang kayu bernama tuhan. Tempo/Ika Ningtiyas

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Ketua Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur, Aan Anshori, tidak sepakat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta si tukang kayu bernama Tuhan mengganti atau menambah namanya.

    Menurut Aan, setiap orang memiliki kemerdekaan memilih nama sepanjang tidak bertentangan dengan kesepakatan publik atau hukum. "Tidak ada pasal yang dilanggar pemilik nama Tuhan," tulis Aan Anshori dalam siaran persnya yang diterima Tempo, Selasa, 25 Agustus 2015.

    Vonis MUI, kata Aan, bahkan terkesan tidak sensitif, sebab pergantian nama bukanlah urusan sepele. Pergantian nama akan berimplikasi serius terhadap dokumen-dokumen milik Tuhan.

    Aan menyarankan MUI tidak perlu mengurusi hal remeh. Sebaliknya MUI harus fokus memikirkan problem keumatan yg lebih besar, misalnya terkait dengan kecenderungan betapa mudahnya klaim keagamaan dijadikan mesiu diskriminasi dan kekerasan bagi kelompok minoritas. (Lihat Video Ternyata Tuhan Lahir di Banyuwangi )

    Namun, jika MUI tetap berkeberatan atas nama itu, sebaiknya menempuh langkah hukum dengan menyebutkan kerugian apa saja yang dialami MUI atas digunakannya nama tersebut. Di luar itu, kata Aan, publik juga sudah cukup cerdas membedakan mana Tuhan dan "Tuhan". "MUI tak perlu panik, apalagi murka kepada 'Tuhan'," katanya.

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyarankan agar pria bernama Tuhan asal Banyuwangi menambah namanya. MUI menilai, penambahan nama tersebut dilakukan agar tidak menimbulkan penafsiran yang menyekutukan Tuhan atau syirik. Selain itu, nama Tuhan kurang pantas dari sudut pandang etika agama.

    “Harus ada tambahan Abdu di depan, menjadi hamba Allah. Seperti asmaul husna kan harus ada tambahan ‘abdu’-nya seperti nama saya Abdusshomad,” ujar Ketua Umum MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Bukhori kepada wartawan di Hotel Garden Palace, Surabaya, 24 Agustus 2015.

    Abdusshomad menganjurkan agar orang-orang sekitar menyadarkan Tuhan untuk segera mengganti namanya. Bahkan meminta petugas pencatatan sipil untuk menarik kartu identitas, agar empunya nama itu untuk sementara tak bisa mengakses layanan publik. "Disadarkan lah untuk menambah namanya. Jadi biar sementara tidak dapat mengakses layanan pemerintah, sampai dia mengganti namanya," tutur Abdusshomad.

    Tuhan ialah nama seorang tukang kayu asal Dusun Krajan, Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi. Pria 42 tahun itu mendadak tersohor setelah kartu tanda pengenalnya diunggah netizen di media sosial Facebook dengan tambahan kalimat yang mengundang tawa sekaligus penasaran: “Teori Januari Christi terbantah...Tuhan ada di Banyuwangi!!”

    Ayah dua anak itu merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Jumhar dan Dawiyah. Ia mengaku tak tahu alasan orang tuanya memberikan nama Tuhan kepadanya. Postingan itu akhirnya memang ramai di media sosial. Meski begitu suami Husnul Khotimah ini tak tahu persis mengapa baru kali ini namanya menyita perhatian khalayak.

    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.