Rumah Sakit tanpa Kelas Segera Beroperasi di Yogya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perawat mengganti infus pasien DBD, di RSUD Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, 30 Januari 2015. Karena jumlah pasien yang membludak akibat DBD, sebagian pasien ditempatkan di lorong rumah sakit. TEMPO/Suryo Wibowo

    Perawat mengganti infus pasien DBD, di RSUD Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta, 30 Januari 2015. Karena jumlah pasien yang membludak akibat DBD, sebagian pasien ditempatkan di lorong rumah sakit. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan triwulan pertama tahun 2016 rumah sakit tanpa kelas atau Rumah Sakit Pratama Yogyakarta sudah mulai beroperasi. “Sebelum dilaunching, dalam APBD Perubahan 2015 ini kami siapkan seluruh operasional untuk rumah sakit itu,” uja Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta Muhammad Edy Senin 24 Agustus 2015.

    Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Agus Sudrajad menuturkan, untuk operasional pertama rumah sakit tanpa kelas ini pemerintah membutuhkan setidaknya 249 tenaga kerja baik medis dan non paramedis. “Sebelum beroperasi menjadi rumah sakit kami tetapkan sebagai UPT (Unit Pelaksana Teknis) untuk menyelesaikan persiapan menjadi rumah sakit terutama perizinan dan fasilitasnya,” ujar Agus.

    Untuk sarana dan prasaranan alat kesehatan rumah sakit tanpa kelas itu  akan mulai dilakukan pengadaan pada bulan September-Oktober 2015 ini.

    Sekretaris Komisi C DPRD Kota Yogyakarta Bambang Seno Baskoro menuturkan, rumah sakit tanpa kelas ini dalam operasional pertamanya memiliki 67 bangsal. “Seluruhnya kelas III,” ujar Bambang. Peresmian fisik bangunan bakal dilakukan bertepatan dengan HUT Kota Yogyakarta yang jatuh bulan Oktober mendatang.

    Untuk menunjang pelayanan rumah sakit tanpa kelas itu, Bambang menuturkan, DPRD dan pemerintah kini tengah membahas kemungkinan menambah luasan lahan di sisi barat rumah sakit yang berlokasi di Jalan Kolonel Soegiyono Kecamatan Mergangsan itu.

    “Ada Pasar Batu seluas 1.000 meter persegi di sisi barat rumah sakit, yang potensial untuk pengembangan kawasan rumah sakit, jika memungkinkan dibeli pemerintah, itu sangat mendukung,” ujarnya.

    Lahan Pasar Batu tersebut, ujar Bambang, bisa diproyeksikan untuk membangun saranan pendukung rumah sakit. Seperti lahan parkir tambahan ataupun poliklinik layanan. “Karena posisinya strategis, kami buka kemungkinan menambah anggaran untuk pembebasannya, akan dibahas bersama pemerintah,” ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.