Jalan Tol Cipali Bikin Penghasilan Pedagang Oleh-oleh Terjun Bebas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ledakan arus balik di ruas jalan tol Cipali mencapai puncaknya pada H+4 pasca lebaran, 21 Juli 2015. Arus kendaraan mengalami kemacetan hingga 20 kilometer dari gerbang utama Cikopo, Purwakarta hingga kilometer 98 Kalijati, Subang. TEMPO/Nanang Sutisna

    Ledakan arus balik di ruas jalan tol Cipali mencapai puncaknya pada H+4 pasca lebaran, 21 Juli 2015. Arus kendaraan mengalami kemacetan hingga 20 kilometer dari gerbang utama Cikopo, Purwakarta hingga kilometer 98 Kalijati, Subang. TEMPO/Nanang Sutisna

    TEMPO.CO, Subang – Beroperasinya ruas Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) membuat para pedagang oleh-oleh dan rumah makan di jalur tengah dan Pantai Utara (Pantura) Jawa di Subang, Jawa Barat, merana. Penghasilan mereka terjun bebas sejak hadirnya jalan tol terpanjang di Indonesia tersebut.

    Pemilik toko oleh-oleh di ruas jalur oleh-oleh Lebaksiuh, Kecamatan Dawuan, Yoyoh, kepada Tempo, Selasa, 25 Agustus 2015, mengatakan pendapatannya menurun drastis. "Sekarang sehari paling banter dapat Rp 500 ribu," kata penjual makanan khas Subang, seperti kerupuk melarat, buah nanas, aneka wajik, dodol nanas, ubi bakar Cilembu, dan sejumlah manisan, tersebut dengan nada sedih.

    Setelah dioperasikannya Jalan Tol Cipali, arus kendaraan pribadi dan penumpang umum serta bus-bus pariwisata yang melewati jalur tengah dan Pantura Jawa lengang.

    Kondisi tersebut secara otomatis menggerus tingkat kunjungan pelancong dalam membeli oleh-oleh di kios-kios sentra dan yang ada di sejumlah titik di jalur tengah dan Pantura Jawa. Angka penurunan arus lalu lintas di kedua jalur yang semula ramai itu diperkirakan mencapai 70 persen.

    Yoyoh berujar, sebelum ada Jalan Tol Cipali, yang dioperasikan mulai akhir Juni 2015, omzet penjualan toko oleh-olehnya per hari mencapai Rp 1-2 juta. Kondisi yang sangat menyedihkan terjadi saat berlangsungnya arus mudik dan balik Lebaran kemarin.

    Saat arus mudik dan balik Lebaran, yang biasanya menjadi masa marema atau mendapat untung besar, pendapatannya tak seperti yang diharapkan. "Omzet penjualan per hari hanya dapat Rp 6 juta. Sebelum ada Jalan Tol Cipali, pendapatannya Rp 11-12 juta per hari," ucap Yoyoh.

    Kondisi sama juga dialami pemilik warung nasi, Uwas. Ia mengaku setiap hari nyaris tak ada lagi konsumen yang berasal dari luar daerah, misalnya yang berasal dari Jabotabek. "Yang masih mampir sekarang ya konsumen lokal," tuturnya. Ia mengaku omzetnya turun 60 persen.

    Para pedagang oleh-oleh dan rumah makan yang berada di jalur utama Pantura Jawa juga bernasib sama. "Enggak ada harapan lagi buat meneruskan bisnis rumah makan dan oleh-oleh," kata Sulaeman, pemilik rumah makan oleh-oleh di Pamanukan.

    Bupati Subang Ojang Sohandi mengakui ihwal dampak negatif yang disebabkan oleh beroperasinya Jalan Tol Cipali. "Kondisi itu memang sebagai konsekuensi logis yang harus dihadapi mereka," ucapnya.

    Namun Ojang memprediksikan lesu darahnya bisnis rumah makan dan oleh-oleh di jalur tengah dan Pantura Jawa tidak akan berlangsung lama. Sebab, geliat perekonomian dan bisnis di Pantura akan segera mengalami peningkatan lagi seiring dengan akan dioperasikannya sejumlah proyek besar.

    "Misalnya, akan dioperasikannya Pelabuhan Nusantara Patimban di Pantura Pusakanagara serta sejumlah zona dan kawasan industri di jalur tengah," ujar Ojang. Hanya saja, para pedagang memang perlu bersabar sekaligus melakukan terobosan-terobosan, agar jualannya tetap eksis. "Kami pasti akan terus membina mereka," tuturnya.

    NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.