Korban Tabrak Lari, Wartawan Harian Fajar Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. personalinjuryweekly.com

    Ilustrasi. personalinjuryweekly.com

    TEMPO.CO, Makassar - Surialang, 26 tahun, wartawan Harian Fajar Makassar, tewas setelah ditabrak truk roda enam di Jalan Jenderal Urip Sumihardjo, Senin, 24 Agustus. Hingga saat ini, belum diketahui siapa pengemudi truk yang kabur beserta kendaraannya setelah kejadian tersebut.

    Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Alimuddin mengatakan pihaknya baru menerima laporan kecelakaan itu lima jam setelah kejadian. Polisi masih memburu pelaku tabrak lari itu. "Kendaraannya itu dump truck Dyna DD 9770-MA atau AM. Kami masih cari kendaraan dan pengemudinya yang kabur meninggalkan TKP," ujarnya.

    Kecelakaan lalu lintas itu bermula saat Surialang hendak liputan ke Asrama Haji Sudiang, Kecamatan Biringkanaya. Dalam perjalanan, tepatnya sebelum jembatan Tello, korban yang mengendarai sepeda motor Yamaha Vega DD-4732-QY tersenggol truk dan terjatuh. "Korban jatuh ke kolong truk," ucap Alimuddin. Surialang sempat dibawa ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan.

    Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Ajun Komisaris Besar Dwi Santoso berjanji kepolisian akan secepatnya mengungkap dan menangkap pengemudi truk tersebut. "Sekarang masih proses penyelidikan dan mengecek saksi-saksi di TKP," ucapnya. "Kami koordinasi dengan Samsat untuk mengecek identitas kendaraan lawan."

    Surialang merupakan jurnalis angkatan termuda Harian Fajar. Alumnus Universitas Muslim Indonesia itu baru menjalani pelatihan alias magang selama tiga bulan terakhir. Sebelumnya, Surialang bertugas pada rubrik olahraga sebelum mendapat penugasan meliput proses pemberangkatan haji 2015 di Asrama Haji Sudiang.

    TRI YARI KURNIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.