Nyawer, Enam Biduanita Diamankan Polisi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Begitu malam tiba, pusat hiburan mulai berpendaran dengan lampunya yang berwarna-warni, menambah semarak Kota Bangkok. Diskotek, bar atau rumah pertunjukan tari erotis jadi

    Begitu malam tiba, pusat hiburan mulai berpendaran dengan lampunya yang berwarna-warni, menambah semarak Kota Bangkok. Diskotek, bar atau rumah pertunjukan tari erotis jadi "suguhan utama" di kawasan "lamu merah" Soi Cowboy di kota tersebut. REUTERS/Jason Lee

    TEMPO.CO, Maros - Sejumlah penari dan penyanyi wanita (biduanita) diamankan di Kepolisian Resort Kabupaten Maros, pada Ahad kemarin. Para penyanyi ini diamankan oleh tim Satuan Intel Polres Kabupaten Maros karena aksi mereka dinilai mempertontonkan adegan pornografi.

    Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Kabupaten Maros, Inspektur Polisi Dua Kasmawati, mengatakan para pelaku ditangkap di Dusun, Tana Takko Desa Alatengae Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Minggu, 23 Agusustus 2015, pada pukul 22.40 WITA.

    "Anggota polisi telah mengamankan pelaku yang diduga telah melakukan pertunjukan elekton musik yang mempertontonkan porno aksi atau sawer atau dikenal dengan (Candoleng-candoleng)," kata Kasmawati, Senin, 24 Agustus 2015.

    Para pelaku tersebut ditangkap pada acara pernikahan anak salah seorang warga, Dg Toba. Padahal, menurut seorang warga, sebenarnya tuan rumah telah melarang dilakukan sawer, namun biduanita lebih menuruti kemauan penonton.

    Sejumlah penonton, menyawer para penyanyi dengan memasukkan uang saweran ke pakaian dalam wanita yang sedang bernyanyi tersebut.

    Atas laporan masyarakat, Polres Kabupaten Maros lantas mengamankan dan menangkap enam biduanita elekton (organ tunggal) Surya Music Electone dari Pekkae, Kabupaten Barru, bersama pemiliknya Adi.

    Keenam penyanyi tersebut merupakan warga Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), yakni Yu (17) disawer Rp 43 ribu dan YR (17) disawer Rp 43 ribu. Lalu, Ra (28), Ll (19),  Rm (20), dan Si (28) disawer Rp 8.000.

    Salah seorang penyanyi Ra (27), asal Kabupaten Pangkep, menjelaskan bahwa aksi saweran dianggap sebagai tambahan dari upah menyanyi mereka. "Upah saya dibayar sekali nyanyi itu Rp 100-150 ribu, satu kali job menyanyi. Jadi biasanya hasil saweran itu tambahan saja," ungkapnya kepada Tempo.

    Ra mengetahui jika hal tersebut memang dilarang. Namun, ia berdalih bahwa permintaan saweran itu biasanya juga atas permintaan tuan rumah. "Kalau tuan rumah melarang, kami tidak lakukan aksi-aksi yang sexy. Tetapi jika diminta kami pun mengikuti permintaan dari tuan rumah," ucapnya.

    BADAUNI A.P.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.