Harga Daging Masih Tinggi, Pedagang Bakso Bingung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang bakso  [TEMPO/ Arie Basuki]

    Pedagang bakso [TEMPO/ Arie Basuki]

    TEMPO.CO, Bandung - Harga daging sapi dan ayam yang masih tinggi membuat sebagian pedagang bakso dan rumah makan mengurangi penggunaan daging dalam bahan baku mereka. Adi, salah satu penjual bakso di daerah Kopo Bandung, mengaku harus mengurangi penggunaan daging dan menggantinya dengan bagian sapi lain, seperti gajih atau tetelan.

    "Harganya masih lumayan agak tinggi. Kalau naikin harga jual takut penjualan turun. Makanya daging buat bakso dicampur dengan tetelan," kata Adi saat ditemui di Kopo, Senin, 24 Agustus 2015.

    Adi mengaku saat penjual daging mogok, ia menjual bakso ayam. "Tapi sekarang sama saja."

    Baca: Heboh Rumah Tak Mempan Dirobohkan, Ahok: Saya Ada Mantra 

    Menurut Adi, harga daging yang tinggi menyulitkan para pedagang. Pasalnya selain harga daging, harga beberapa komoditas lainnya juga ikut merangkak naik. 

    Dengan harga daging sapi yang masih berada di kisaran Rp 100 ribu dan ayam Rp 45 ribu, Adi terpaksa mencampur daging dengan tetelan. "Sebenarnya harga sudah agak turun, tapi belum stabil. Jadi sampai sekarang kami masih menggunakan tetelan. Untuk rasa memang tidak ada pengaruhnya, tapi tekstur baksonya menjadi agak keras," ujarnya.

    Baca Juga: Sengit, Giliran Ahok Tantang Rizal: Bongkar Saja Rumah Saya!

    Hal yang sama juga dikatakan Devi, pemilik warung nasi di daerah Cibolerang, Kopo, Bandung. Akibat harga daging yang masih tinggi, ia menyiasati dengan memperkecil ukuran bakso. Harga pun dinaikkan sebesar Rp 500.

    "Mudah-mudahan besok sudah stabil, ke harga normal saja sudah syukur," katanya.

    DWI RENJANI

    Berita Menarik:
    Disebut Kasar oleh Tommy Soeharto, Ini Tanggapan Ahok
    Warga Kampung Pulo Bayar Rusun Rp 10 Ribu per Hari, tapi.... 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.