Akbar Faisal Menilai Rizal Ramli Sedang 'Tes Air' di Kabinet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rizal Ramli, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Rizal Ramli, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai NasDem, Akbar Faisal, mengibaratkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli saat ini sedang mencari pola komunikasi yang tepat setelah memasuki bagian tengah kapal pemerintahan.

    Meski pernah menjabat di kursi pemerintahan, Akbar menuturkan, gaya Rizal Ramli tak terlepas dari posisi sebelumnya sebagai pengamat kritis. "Kesimpulan saya, Rizal Ramli sedang mencari formulasi yang tepat, ya bisa lah testing the water," kata Akbar saat berdiskusi di Warung Daun, Sabtu, 22 Agustus 2015.

    Baca juga:

    Wah, Artis Amel Alvi Mencak-mencak Saat Digerebek BNN

    Meski demikian, Akbar mengatakan permasalahan polemik Rizal Ramli dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kritiknya terhadap mega proyek 35 ribu megawatt serta pembelian pesawat oleh Garuda sudah selesai. Apalagi, kata dia, presiden telah meminta Rizal fokus mengurusi bidang kemaritiman.

    Menurut dia, Rizal setelah ini tak akan sempat lagi mengurusi bidang di luar wewenangnya karena persoalan kemaritiman sangat banyak.

    Belum sepekan dilantik, Rizal melontarkan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Mulai proyek nasional pembangkit listrik 35 ribu megawatt sampai pembelian pesawat Airbus A350 oleh Garuda Indonesia. Rizal beranggapan proyek pembangkit listrik perlu dikaji dengan hati-hati.

    Sedangkan pembelian armada pesawat Airbus tak mendesak karena rute penerbangan yang bakal dilintasi pesawat baru terus merugi. Tak ayal Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno geram mendengar kritikan tersebut.

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.