Heboh Calon Dokter 14 Tahun, Pengamat: Hati-hati Akselerasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aldo Meyolla Geraldino, 14 tahun Kuliah di UGM. Sumber foto : ugm.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    Aldo Meyolla Geraldino, 14 tahun Kuliah di UGM. Sumber foto : ugm.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat pendidikan, Doni Koeseoma, mengapresiasi ada anak Indonesia yang baru berumur 14 tahun tapi sudah duduk di bangku kuliah. Walau begitu, ia tidak menyarankan sistem pendidikan akselerasi dilakukan di Indonesia. “Saya sih menentang akselerasi,” katanya saat dihubungi, Kamis, 20 Agustus 2015. (Lihat Video Usia 14 Tahun Aldo Sudah Menjadi Mahasiswa Kedokteran)

    Sebelumnya, Aldo Meyolla Geraldino menjadi mahasiswa termuda di Universitas Gadjah Mada tahun akademik 2015/2016. Pada usianya yang baru 14 tahun, remaja kelahiran 19 Desember 2000 ini mampu menembus jenjang mahasiswa dan masuk di Fakultas Kedokteran UGM.

    Aldo menamatkan pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri 16 Solo, Jawa Tengah, dalam lima tahun. Kemudian ia bersekolah di Sekolah Menengah Pertama 9 Solo. Ia menyelesaikan jenjang SMP dalam dua tahun. Lulus SMP, Aldo melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas 1 Solo. Di SMA pun, dia berhasil lulus dalam dua tahun.

    Baca juga:
    Diterima di UGM, Calon Dokter Usia 14 Tahun Minta Kado Aneh

    JK Damprat Rizal di Depan Presiden, Jokowi  Bela Siapa?

    Doni menuturkan kelas akselerasi di negara maju biasanya hanya diberikan kepada anak-anak ber-IQ lebih dari 140. Namun, di Indonesia, sekolah menerapkan kelas akselerasi bagi anak-anak normal yang IQ-nya hanya 100-110.

    Menurut Doni, ada beberapa akibat buruk kelas akselerasi di Indonesia. Dari sisi pelajar, anak kelas akselerasi bisa lemah dalam mematangkan kepribadian di sosial dan lingkungannya. Sedangkan sari sisi sekolah, ucap Doni, akan banyak lembaga pendidikan yang meningkatkan biaya sekolah dengan menggunakan embel-embel akselerasi. “Sekolah akan mahal, padahal sebenarnya perbedaan kualitas antara kelas biasa dan kelas akselerasi hampir tidak ada,” ujar pendiri Pendidikan Karakter Education Consulting ini.

    Doni lebih menyarankan agar sekolah di Indonesia mengikuti masa belajar yang normal, yaitu SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMP 3 tahun. “Dengan begitu, sosialisasi dan pengembangan karakter serta kepribadian bisa dilakukan. Jadi, saat kuliah, mereka bisa mandiri,” katanya.

    Bila ingin menyelesaikan studi lebih cepat, ia menyarankan dilakukan di tingkat sarjana. “Karena di tingkat itu, secara kepribadian dan ilmu, anak itu sudah akan matang,” ucapnya.

    Menurut Doni, tingginya ilmu pengetahuan tidak ada korelasinya dengan kematangan kepribadian. Jadi banyak anak yang sekolahnya sudah tinggi tapi gagap dalam pergaulan sosial lantaran masih belum matang kepribadiannya. Di negara maju, ujar Doni, banyak anak usia muda yang cepat lulus sekolah dan tinggi ilmunya tapi gagal dalam kehidupan. “Bahkan banyak pula yang bunuh diri karena stres lantaran kepribadiannya tidak matang,” tuturnya.

    MITRA TARIGAN

    Baca juga:

    Wah, Gitaris Ayu, 10 Tahun, Bikin Musisi Inggris Terpesona

    Kisah Sultan: Saat Bertemu Nyi Kidul pada Bulan Purnama (1)

    VIDEO TERKAIT:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.