Kisah Sultan: Kisah Keris dan Bisikan Gaib Soal Belanda (3)  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) mengikatkan pita ke keris seorang abdi dalem saat melewati pintu pemeriksaan di Gerbang Magangan, kompleks Keraton Yogyakarta, Selasa (22/10). TEMPO/Suryo Wibowo

    Seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) mengikatkan pita ke keris seorang abdi dalem saat melewati pintu pemeriksaan di Gerbang Magangan, kompleks Keraton Yogyakarta, Selasa (22/10). TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Raja Jawa kerap kali dikaitkan dengan hal-hal gaib. Tak terkecuali Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang sudah mengenyam pendidikan a la Belanda sejak umur empat tahun.

    Bendara Raden Mas Dorodjatun, nama kecil HB IX, pertama kali mengalami hal gaib saat masih menjadi putra mahkota. Saat itu ayahnya, Hamengku Buwono VIII, baru saja mangkat, sementara perundingan dengan Gubernur Lucien Adam yang sudah berlangsung selama empat bulan berjalan alot. Perundingan maraton itu membuat fisik dan mentalnya terkuras.

    Baca juga:

    Diterima di UGM, Calon Dokter Usia 14 Tahun Minta Kado Aneh
    JK Damprat Rizal di Depan Presiden, Jokowi  Bela Siapa?

    Dalam kondisi seperti itulah, pada suatu senja akhir Februari 1940, Dorodjatun yang sedang berbaring menerima bisikan aneh, yang diyakininya sebagai suara ayahnya. "Tole, tekena wae, Landa bakal lunga saka bumi kene." (Nak, tanda tangani saja, Belanda akan segera pergi dari bumi sini.) Malam harinya, ia pun mendatangi Adam dan menyatakan menerima perundingan yang diajukan Belanda.

    Tak lama setelah itu, pada 18 Maret 1940, pengangkatan Dorodjatun sebagai Sultan Hamengku Buwono IX dilakukan. Ia menerima Kiai Ageng Kopek. Keris pusaka utama Keraton berbentuk (dhapur) jalak sangu tumpeng bersarung kayu cendana ini hanya berhak dipakai oleh Sultan Hamengku Buwono.

    Sebelumnya ia menerima keris Kiai Jaka Piturun saat diangkat sebagai putra mahkota. Keris dengan dhapur jalak dinding ini bersarung kayu timoho. Menurut Romo Tirun, pini sepuh sekaligus Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta, tak sembarang putra raja dapat menerima keris tersebut. Penerima yang dianggap tak tepat akan mati tak lama setelah menerima keris.

    Salah satu contohnya adalah saat pengangkatan putera mahkota penerus takhta Hamengku Buwono VII. Pengangkatan harus diulang empat kali karena tiga putra mahkota meninggal tanpa penyebab yang jelas. Sedangkan Dorodjatun tetap hidup sampai sampai diangkat menjadi raja dan mangkat saat berumur 76 tahun.

    "Wallahualam apa penyebabnya. Hanya Tuhan yang tahu," kata Romo Tirun.

    Tim Tempo

    Baca juga:

    Kisah Sultan: Saat Bertemu Nyi Kidul pada Bulan Purnama (1)
    Kisah Sultan: Saksi Lihat Dia Masuk Laut Pakai Mobil (2)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.