Rizal Ramli: Pak Jokowi Senang pada Orang Berjiwa Petarung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. TEMPO/Imam Sukamto, TEMPO/Subekti

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. TEMPO/Imam Sukamto, TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta -Rizal Ramli dan Jusuf Kalla pernah sama-sama duduk di kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Sebelum terpental pada 2001, Rizal menjabat Menteri Koordinator Perekonomian dan kemudian Menteri Keuangan. Adapun Kalla menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan selanjutnya Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

    Lulus dari Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung, Rizal memperoleh gelar doktor bidang ekonomi dari Boston University, Amerika Serikat. Sebelum masuk pemerintahan, dia kerap mengkritik kebijakan ekonomi Orde Baru. Pada masa itu, dia mendirikan lembaga kajian ekonomi Econit Advisory Group.

    Pria kelahiran Padang 60 tahun silam ini kembali menjadi tukang kritik pada zaman pemerintahan Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono. Ia beranggapan kebijakan ekonomi Indonesia terlalu liberal. Sebelum menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dalam pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, Rizal menjabat Komisaris Bank Nasional Indonesia.

    Baca juga:
    Diterima di UGM, Calon Dokter Usia 14 Tahun Minta Kado Aneh
    JK Damprat Rizal di Depan Presiden, Jokowi Pilih Siapa?

    Kepada Tempo, 19 Agustus 2015, Rizal mengungkapkan alasannya mengkritik kebijakan pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla.   Rizal mengatakan, Jokowi senang dengan orang yang memiliki jiwa petarung.

    Bagaimana Anda bisa masuk ke pemerintahan?
    Pak Jokowi senang dengan orang yang memiliki jiwa petarung. Pak Syafii Maarif itu kan petarung. Kami ini dinilai Pak Jokowi sebagai tipe petarung. Saya tidak takut dengan siapa pun. Saya hanya takut dengan Tuhan. Saya hanya jalankan tugas saya memperbaiki negara ini.

    Kenapa Anda memilih mengkritik pemerintahan di ruang terbuka?
    Saya kan belum pernah ikut sidang kabinet. Boleh dong ngomong bebas buat bikin perubahan lebih baik. Kalau enggak begitu, kita akan ada di zona nyaman terus. Apa-apa dibilang sudah bagus. Padahal kita perlu shock therapy. Ini namanya jurus rajawali ngepret, ha-ha-ha….

    Berarti setelah ini, Anda akan lebih mengerem?
    Enggak…, enggak ada urusan ngerem. Bedanya, kalau di luar (pemerintahan), saya kritis. Tapi kalau di dalam, saya kritis untuk mengubah. Saya waktu di Bulog dan BNI enggak pernah diam. Tapi saya melakukan transformasi.

    Jokowi menegur Anda karena berselisih dengan Wapres Jusuf Kalla?
    Kalau Presiden sih senang sama saya, karena karakter kami nyaris sama, sama-sama punya pikiran out of the box.

    DEVY ERNIS

    Baca juga:
    Kisah Sultan: Saat Bertemu Nyi Kidul pada Bulan Purnama
    Histeris Diputusi Pacar, Wanita Ini Guling-guling di Jalan

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.