Tragedi Trigana, Keluarga Penumpang Ngamuk: Stop Pakai Calo!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kerabat dari penumpang korban kecelakaan pesawat Trigana Air berkumpul untuk mencari informasi lebih lanjut di bandara Jayapura, Papua, 17 Agustus 2015. Pesawat dengan Trigana dengan nomor registrasi PK-YRN bernomor penerbangan IL-257 lepas landas dari Bandara Sentani pukul 14.22 WIT. Pesawat berpenumpang 54 orang tersebut dijadwalkan mendarat di Bandara Oksibil pukul 15.04 WIT. BIMA SAKTI/AFP/Getty Images

    Kerabat dari penumpang korban kecelakaan pesawat Trigana Air berkumpul untuk mencari informasi lebih lanjut di bandara Jayapura, Papua, 17 Agustus 2015. Pesawat dengan Trigana dengan nomor registrasi PK-YRN bernomor penerbangan IL-257 lepas landas dari Bandara Sentani pukul 14.22 WIT. Pesawat berpenumpang 54 orang tersebut dijadwalkan mendarat di Bandara Oksibil pukul 15.04 WIT. BIMA SAKTI/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jayapura - Kantor Otoritas Bandara Kelas II di Bandara Sentani, Papua, kini menjadi posko crisis center bagi keluarga korban jatuhnya pesawat Trigana Air Service jenis ATR 42 PK YRN bernomor lambung IL 267. Dalam suasana kecemasan, tiba-tiba seorang pria paruh baya berteriak melampiaskan kemarahannya.

    "Kamu orang bandara, stop pakai calo jual-jual tiket sembarang!" teriak lelaki itu seraya menunjuk para petugas bandara dan aparat keamanan yang ada di Bandara Sentani, Senin, 17 Agustus 2015. "Gara-gara pakai tiket sembarangan ini, saudara saya ikut pesawat pakai nama orang lain dan jatuh mati."

    Kemarahan laki-laki yang memakai kaus cokelat bertulisan “Satgas Pamong Praja Kabupaten Pegunungan Bintang” ini disambut keluarga korban lainnya. Beberapa keluarga korban jatuhnya pesawat Trigana Air Service menduga tiket yang dipakai penumpang sebagian besar bodong atau tak sesuai dengan manifes yang tercatat.

    "Saudara saya bernama Terianus Salawala ada di dalam pesawat Trigana Air yang mengalami kecelakaan, tapi namanya tak tercantum di manifes. Saudara saya itu memakai tiket atas nama Susilo," kata Ignasius G. Mimin, seorang anggota DPR Papua yang juga putra asli Oksibil, Pegunungan Bintang, saat ditemui di Bandara Sentani.

    Ignasius mengakui kemungkinan saudaranya yang ada di dalam pesawat membeli tiket dari jalur tak resmi atau calo. "Mungkin juga ada pertukaran nama dengan orang lain, seperti para penumpang Trigana yang mengalami kecelakaan ini. Beberapa nama tidak sesuai manifes seperti yang dirilis di media," ujarnya.

    Contoh lain, nama Ketua DPRD Pegunungan Bintang Petrus Tegeken tercantum pada manifes pesawat Trigana yang jatuh, tapi orangnya sudah terbang pada penerbangan pertama. "Tiketnya itu dipakai saudara laki-laki saya bernama Jhon Gasper yang kini jadi korban," tutur Cory, kerabat Jhon Gasper.

    Mengenai nama penumpang yang tak sesuai manifes, Direktur Operasional Trigana Air Benny Sumaryanto mengatakan, pada intinya, petugas Trigana Air menerima tiket saat penumpang check in beserta identitas yang sudah diterima sesuai dengan data manifes dan KTP.

    "Jadi seperti itu ada pada saat check in. Tapi, jika ternyata ada yang memang tak sesuai dengan data manifes, tentunya kami akan cari tahu kira-kira benang merahnya itu ada di mana," ucapnya. "Tapi, setahu saya, dari kami biasanya para penumpang harus datang dengan tiket dan KTP. Sebab, area Trigana saat check in lewat counter sama dengan maskapai lainnya yang juga lewat counter masing-masing."

    Benny membantah ada penggantian nama pemilik tiket menjadi nama orang lain. "Sebab, yang kami terima itu sesuai dengan saat check in pertama. Tapi, jika kemudian ada nama yang diganti, mungkin itu dari mereka sendiri saat check in. Tapi itu jelas bukan wewenang kami," katanya.

    CUNDING LEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.